Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai rencana pembangunan pusat data di wilayah Indonesia Timur merupakan langkah realistis guna mendukung pemerataan infrastruktur digital nasional. Upaya desentralisasi ini dianggap krusial untuk memenuhi kebutuhan pemulihan bencana atau disaster recovery center di luar Pulau Jawa.
Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel Teguh Prasetya menjelaskan bahwa realisasi pembangunan tersebut sangat bergantung pada skala kebutuhan dan kasus penggunaan yang ada. Hal ini dilansir dari Teknologi pada Jumat (8/5/2026) sebagai bentuk penyesuaian terhadap besarnya investasi yang diperlukan.
ÔÇ£Tinggal seberapa besar size dan usecasenya yang tentunya harus mengikuti dan sejalan dengan besaran investasi tersebut,ÔÇØ kata Teguh Prasetya, Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel.
Teguh menambahkan bahwa saat ini fasilitas pusat data masih dominan berada di Pulau Jawa karena ketersediaan listrik, jaringan fiber optik, dan air yang memadai. Namun, ekspansi ke wilayah timur diprediksi akan memicu pertumbuhan investasi pada sektor infrastruktur penunjang lainnya secara lebih luas.
ÔÇ£Namun masih perlu diperluas secara masif,ÔÇØ kata Teguh Prasetya, Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel.
Kementerian Komunikasi dan Digital turut mendorong agar sebaran pusat data tidak lagi hanya berkonsentrasi di wilayah barat Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari penyusunan rencana induk pengembangan pusat data nasional untuk sektor swasta dalam menghadapi lonjakan kebutuhan komputasi awan.
ÔÇ£Kami mengupayakan bagaimana data center itu jangan terfokus di satu wilayah, wilayah Barat,ÔÇ£ kata Wayan Toni Supriyanto, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi.
Wayan menegaskan bahwa infrastruktur ini merupakan fondasi utama bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan kedaulatan data nasional. Transformasi menuju pusat data ramah lingkungan atau green data center menjadi salah satu fokus utama kebijakan pemerintah ke depan.
ÔÇ£Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi hub data center di kawasan, dan ini harus kami dorong menjadi lebih serius sebagai bagian dari pemosisian strategis nasional,ÔÇØ kata Wayan Toni Supriyanto, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi.
Di sisi lain, perusahaan infrastruktur digital Equinix Indonesia masih memfokuskan ekspansinya di Jakarta melalui pengembangan pusat data JK1 International Business Exchange. Penambahan kapasitas ini ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026 untuk mendukung ekosistem keuangan dan layanan digital.
ÔÇ£Saat ini, kami tengah melanjutkan pengembangan fase berikutnya dari pusat data JK1 International Business ExchangeÔäó (IBX┬«),ÔÇØ kata Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia.
Haris menyatakan bahwa fasilitas di Jakarta Pusat memberikan keuntungan berupa latensi rendah yang sangat dibutuhkan oleh sektor perbankan. Perusahaan juga mulai mengadopsi teknologi pendinginan cair untuk memastikan infrastruktur siap mengakomodasi beban kerja AI yang tinggi.
ÔÇ£Di Indonesia, kami memanfaatkan sertifikat energi terbarukan serta terus mengeksplorasi efisiensi energi untuk mendukung target Indonesia Emas 2045,ÔÇØ kata Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia.
Posisi geopolitik yang netral dan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat menjadikan Indonesia sebagai lokasi strategis bagi pemain global. Meski demikian, tantangan dalam perizinan dan ketahanan energi tetap menjadi catatan penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat digital regional.
ÔÇ£Dengan terus mengembangkan infrastruktur berbasis konektivitas serta investasi pada talenta digital, Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk tidak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga menjadi pusat digital regional yang tangguh,ÔÇØ kata Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia.