KH Imam Jazuli Bangun Pesantren Bina Insan Mulia dengan Manajemen Modern

KH Imam Jazuli Bangun Pesantren Bina Insan Mulia dengan Manajemen Modern
Foto: Ilustrasi KH Imam Jazuli Bangun Pesantren Bina Insan Mulia dengan Manajemen Modern.

Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) mencuri perhatian publik dengan menerapkan manajemen modern layaknya korporasi namun tetap memegang teguh nilai kepesantrenan. Lembaga ini berkembang pesat menjadi model pendidikan inklusif yang berorientasi pada jaringan global.

Didirikan pada 2013, pesantren yang dikutip dari Cahaya ini telah mengekspansi layanannya hingga memiliki tiga kampus utama, yaitu Bina Insan Mulia I, II, dan III. Pertumbuhan fisik tersebut menjadi bukti visi besar sang pendiri, Kiai Haji Imam Jazuli.

Kesuksesan BIMA tidak lepas dari figur KH Imam Jazuli yang merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir. Pengalaman organisasi dan akademik yang matang membentuk karakternya dalam memimpin lembaga pendidikan Islam tersebut.

DR KH Nanang Firdaus Masduki Lc MM, Pimpinan Syafana Islamic School BSD City sekaligus rekan kuliahnya, menceritakan keunikan KH Imam Jazuli sejak masa mahasiswa di Kairo.

"Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur ÔÇÿberisikÔÇÖ. Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi," ujar Nanang.

Nanang juga menyoroti kemampuan KH Imam Jazuli dalam menyeimbangkan antara kesibukan berorganisasi dan prestasi akademik hingga lulus tepat waktu.

"Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya," kata Nanang.

Sistem Pengelolaan Profesional Berjiwa Santri

Manajemen BIMA dinilai sebagai perpaduan langka antara tradisi pesantren dan standar profesionalitas modern. KH Imam Jazuli disebut tidak hanya mengikuti tren pendidikan yang ada, melainkan berani menciptakan arus baru.

"Dia mengelola pesantren dengan standar korporasi namun tetap berjiwa santri. Dia tidak mengikuti arus, dia menciptakan arus," tutur Nanang.

Ubaydillah Anwar, Direktur Pengembangan HCM Bina Insan Mulia, menjelaskan bahwa pembagian tiga kampus BIMA didasarkan pada aksesibilitas sosial ekonomi masyarakat tanpa membedakan kualitas pembinaan.

"Yang ekonomi menengah atas bisa memilih di Bina Insan Mulia II, yang ekonomi sedang bisa memilih di Bina Insan Mulia I, sedangkan yang di bawah bisa memilih di Bina Insan Mulia III," jelas Ubaydillah.

Meskipun terdapat perbedaan fasilitas fisik, kehadiran kiai dan kualitas layanan pendidikan dipastikan setara bagi seluruh santri.

"Meskipun berbeda-beda fasilitasnya, tetapi secara layanan pendidikan dan kehadiran kiai di hati santri melalui berbagai kegiatan sama. Semua orang punya kesempatan untuk berkembang," ucap Ubaydillah.

Mencetak Generasi Strategis untuk Indonesia

Visi utama BIMA adalah menghantarkan lulusannya menjadi generasi yang tidak hanya saleh secara akhlak, tetapi juga memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

"Kiai Imam Jazuli ingin menghantarkan santrinya bukan saja menjadi generasi yang saleh berakhlak mulia, tetapi generasi yang saleh plus punya peranan strategis untuk pembangunan Indonesia," kata Ubaydillah.

Kurikulum pesantren diarahkan untuk memfasilitasi santri melanjutkan studi ke luar negeri. Fokus utama diarahkan pada bidang sains dan teknologi (STEM), selain studi keislaman di Timur Tengah serta pendidikan di berbagai negara Eropa.

Saat ini, alumni BIMA telah tersebar di 16 negara meskipun usia lembaga baru mencapai sekitar 13 tahun. Selain itu, BIMA menjadi pionir yang menghadirkan sekolah pendidikan politik bagi para santri.

"Pesantren ini menjadi salah satu yang pertama memiliki sekolah politik untuk para santri. Santri harus berani masuk ke pertarungan politik sebagai bentuk panggilan untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia," ujar Ubaydillah.

Artikel terkait

Rekomendasi