Sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mendatangi lapak buku lama di kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, untuk berburu literatur kuliah dengan harga terjangkau pada Rabu (15/4/2026). Keberadaan kios-kios sederhana ini menjadi alternatif utama di tengah tingginya harga buku baru di toko modern.
Aktivitas jual beli di pusat buku legendaris ini tetap bertahan meskipun tren digitalisasi mulai menggeser pola konsumsi bacaan mahasiswa. Dilansir dari Megapolitan, para pencari buku mengandalkan lapak ini untuk menemukan judul-judul langka yang sudah tidak lagi beredar di pasar arus utama.
Pradipta, mahasiswa Ilmu Komunikasi UI, menjelaskan bahwa informasi mengenai sentra buku murah ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa baru melalui rekomendasi senior.
"Dari maba udah dikenalin senior. Katanya kalau mau buku murah dan lengkap, ya ke Pondok Cina," kata Pradipta saat ditemui Kompas.com, Rabu (15/4/2026).
Bagi mahasiswa, selisih harga yang ditawarkan lapak buku bekas sangat signifikan jika dibandingkan dengan buku baru di toko retail besar.
"Buku baru bisa Rp 200.000 lebih. Di sini kadang dapat Rp 50.000 atau Rp 70.000. Masih masuk akal buat anak kos," ujar Pradipta.
Selain faktor ekonomi, keberadaan catatan kaki atau coretan dari pemilik sebelumnya pada buku bekas memberikan kesan tersendiri bagi pembaca.
"Kadang ada coretan mahasiswa dulu. Jadi kayak baca buku sambil lihat cara orang lain belajar zaman sebelumnya," ucapnya.
Kebutuhan akan referensi akademik yang spesifik juga membawa Husna, mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, ke lokasi yang sama bersama rekan-rekannya.
"Kalau butuh buku buat tugas atau referensi, saya biasanya langsung ke sini dulu. Soalnya lebih lengkap dan harganya jauh lebih murah," kata Husna.
Ia menekankan bahwa membeli buku bekas adalah salah satu metode untuk mengelola keuangan selama masa studi.
"Kalau semua buku harus beli baru, uang bulanan bisa habis buat buku doang," ujarnya.
Proses pencarian buku di antara tumpukan yang tidak teratur menjadi kegiatan sosial tersendiri bagi para mahasiswa yang datang berkelompok.
"Kalau rame-rame itu seru. Kadang teman saya nemu buku yang saya butuhin, atau sebaliknya," kata Husna.
Husna berharap agar lapak-lapak di Pondok Cina ini tetap beroperasi guna membantu mahasiswa yang memiliki keterbatasan dana pendidikan.
"Sayang banget kalau sampai hilang. Ini tempat yang membantu mahasiswa banget," tutur Husna.
Kondisi kontras terlihat di kawasan Jalan Sawo atau Blok Stasiun UI yang dahulu merupakan sentra buku, namun kini banyak ruko yang tutup atau jarang beroperasi.
Didi, penjual buku generasi kedua yang bertahan sejak 1999, mengenang masa kejayaan kawasan tersebut ketika masih banyak pedagang yang aktif.
"Kalau toko ini bukanya dari 1999. Saya generasi kedua, nerusin dari orang tua," ujar Didi.
Penyusutan jumlah ruko buku di kawasan tersebut terjadi secara perlahan hingga menyisakan sangat sedikit toko yang rutin melayani pembeli.
"Dulu di sini ada delapan ruko buku. Ramai banget. Mahasiswa kalau cari buku pasti muter dari ujung ke ujung," katanya.
Perubahan perilaku mahasiswa yang beralih ke format dokumen digital dan dampak pandemi menjadi tantangan berat bagi para pedagang konvensional.
"Sekarang tinggal satu yang benar-benar jalan terus. Yang lain masih ada tokonya, tapi jarang buka," ujar dia.
Didi mengamati bahwa meskipun pasar menyusut, masih ada segmentasi pembeli tertentu yang setia mencari cetakan fisik.
"Masih ada yang nyari buku asli, buku lama yang udah enggak dicetak. Tapi ya enggak seramai dulu," kata Didi.
Di sisi lain, Marita yang mengelola Toko Buku Mail sejak 2011, tetap mempertahankan ribuan stok buku di kiosnya yang berdiri di atas lahan kelurahan.
"Dulu yang ramai itu yang seberang, yang dibubarin. Di sini bukan tanah mereka. Ini tanah kelurahan," ujar Marita.
Koleksi yang ia miliki mencakup berbagai disiplin ilmu, dengan beberapa judul yang sudah tersimpan selama hampir dua dekade.
"Ribuan. Numpuk semua sampai atas. Yang paling lama itu dari awal saya buka, 2006," katanya.
Pelanggan Marita tidak hanya terbatas pada mahasiswa aktif, melainkan juga alumni yang datang untuk mencari buku lama.
"Dari awal masuk kuliah sampai lulus, bahkan sudah kerja masih datang lagi. Biasanya nostalgia," ujarnya.
Nama toko tersebut memiliki latar belakang personal yang unik dalam sejarah keluarga sang pedagang.
"Itu dari nama suami. Saya bikin papan sendiri, saya cat sendiri. Suami enggak tahu," katanya sambil tertawa kecil.
Marita mengungkapkan bahwa stok buku bidang hukum, teknik, dan psikologi cenderung lebih stabil dibandingkan buku ekonomi yang sering berganti edisi.
"Kalau buku hukum, teknik, psikologi itu jarang berubah. Bukunya itu-itu aja," katanya.
Penumpukan stok sering terjadi karena sistem pembelian buku baru dari distributor tidak memungkinkan adanya retur.
"Enggak bisa balik. Katanya sudah dibayar. Jadi mendem," ucapnya.
Permintaan terhadap buku langka terkadang membuat pembeli berani menawarkan harga lebih tinggi demi mendapatkan fisik buku tersebut.
"Orang nyari, sampai bilang mau bayar Rp75.000 kalau ketemu," ujarnya.
Namun, tantangan dalam menghadapi pembeli yang menawar terlalu rendah juga menjadi dinamika keseharian di pasar buku bekas.
"Kadang manusianya yang bikin jengkel. Ada yang nawar setengah mati," katanya.
Untuk pesanan buku tertentu, Marita kini menerapkan kebijakan uang muka guna menghindari kerugian akibat pembatalan sepihak.
"Mereka bilang, ÔÇÿBu cariin buku ini.ÔÇÖ Saya cariin. Tapi saya minta DP dulu minimal separuh. Pernah batal? Banyak banget," ujarnya.
Risiko kerusakan buku akibat faktor alam seperti rayap dan cuaca menjadi perhatian utama dalam perawatan stok di kios.
"Rayap banyak banget. Kalau musim hujan lebih parah," katanya.
Kendati sempat diminta keluarga untuk mengganti jenis usaha, Marita memilih setia pada profesi penjual buku karena alasan nilai ekonomi keluarga.
"Suami saya bilang, ÔÇÿUdah rubah aja, jangan buku lagi.ÔÇÖ Tapi saya enggak tega. Kita awal makan dari sini," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lapak buku bekas memiliki daya tarik harga yang tidak bisa disaingi oleh toko buku modern skala besar.
"Mahasiswa yang cari murah pasti ke sini. Kalau di Gramedia orang nanya murah, bisa diketawain," ujarnya.
Optimisme tetap ada bahwa selama fisik buku tetap dihargai sebagai sumber ilmu, usaha ini tidak akan pernah padam.
"Walaupun sepi, tetap ada aja pembeli. Buku itu ilmu. Enggak bakalan mati, kecuali kebakaran," kata Marita.
Sejarah panjang lapak ini juga membekas di ingatan para alumni UI, salah satunya Mifah, lulusan Fakultas Ekonomi angkatan 2004.
"Dulu Pondok Cina itu kayak tempat wajib. Kalau dosen kasih daftar bacaan, kita pasti ke sana dulu sebelum ke toko buku," kata Mifah.
Peredaran buku kuliah di lokasi tersebut menyerupai siklus yang menghubungkan lintas generasi mahasiswa UI.
"Itu kayak siklus. Buku dari kakak tingkat turun ke adik tingkat. Muter terus," ujarnya.
Keahlian para pedagang dalam mengenali kebutuhan buku berdasarkan nama dosen pengampu juga menjadi nilai tambah.
"Kita sebut nama dosen aja, mereka langsung bilang, ÔÇÿOh kalau dosen itu biasanya pakai buku ini,ÔÇÖ" kata Mifah.
Dira, alumni UI angkatan 2008, menambahkan bahwa spesifikasi buku tertentu seringkali hanya bisa ditemukan di kios-kios tersebut.
"Buku anak FIB itu banyak yang spesifik banget. Kadang judulnya nggak ada di Gramedia. Tapi di Pondok Cina sering ada," kata Dira.
Ia mengkhawatirkan hilangnya nilai atmosferik dan sejarah jika lokasi-lokasi seperti Pondok Cina tergerus zaman.
"Kalau semuanya pindah ke PDF memang praktis. Tapi ada nilai yang hilang. Tempat seperti Pondok Cina punya atmosfer yang nggak bisa diganti," ujarnya.
Muh Azis Muslim, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI, memberikan perspektif akademisi mengenai perubahan budaya literasi ini.
"Senang sekali, ini membuat saya merasa bernostalgia pada masa-masa tahun 90-an saya sebagai mahasiswa UI," ujarnya.
Ia mengingat kembali masa ketika universitas secara rutin memfasilitasi akses buku murah bagi mahasiswa melalui program khusus.
"Kami mengadakan PBM, Pekan Buku Murah, mendatangkan pedagang buku dari Senen. Itu rutin," kata Azis.
Pergeseran ke format digital diakuinya lebih efisien secara praktis dan beban biaya bagi mahasiswa masa kini.
"Kalau PDF cukup membawa laptop. Dibandingkan membawa banyak buku. Secara harga juga lebih ringan," ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan buku fisik tetap menjadi persyaratan mendasar dalam studi bidang ilmu tertentu.
"Kalau belajar hukum, biasanya mereka diminta menggunakan kitab utama dalam bentuk fisik," katanya.
Lapak buku bekas kini bertransformasi menjadi tujuan utama untuk mencari material sejarah atau edisi impor yang sudah langka.
"Buku-buku sejarah, edisi langka, buku impor bekas, itu jadi buruan," ujarnya.