Kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, masih menjadi pusat perburuan buku fisik bagi kalangan akademisi dan masyarakat umum pada Rabu (15/4/2026). Meskipun teknologi digital mendominasi, deretan lapak buku sederhana di pinggir jalan ini tetap bertahan sebagai penyedia referensi literasi bagi mahasiswa di sekitar kampus tersebut.
Eksistensi lapak buku ini menjadi perhatian Muh Azis Muslim, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI, yang melihat tempat tersebut sebagai bagian dari perjalanan akademik lintas generasi. Dilansir dari Megapolitan, fenomena ini menunjukkan bahwa buku cetak masih memiliki ruang tersendiri di tengah kemudahan akses dokumen digital.
"Senang sekali, ini membuat saya nostalgia masa-masa tahun 90-an," ujar Azis Muslim, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI.
Azis menjelaskan bahwa pada era 1990-an, ketergantungan mahasiswa terhadap buku fisik sangat tinggi karena belum adanya alternatif digital. Tradisi pengadaan buku murah bahkan sering dilakukan melalui kerja sama dengan pedagang dari kawasan Senen.
"Waktu itu kami sering mengadakan Pekan Buku Murah, mendatangkan pedagang dari Senen. Itu rutin, bisa dua kali setahun," kata Azis Muslim, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI.
Ia mengamati adanya perubahan pola konsumsi literasi di mana mahasiswa saat ini lebih memilih e-book atau PDF karena alasan efisiensi dan biaya. Namun, pergeseran tersebut tidak serta-merta menghilangkan fungsi buku cetak sepenuhnya dalam dunia pendidikan.
"Kalau dulu buku fisik jadi referensi utama, sekarang sudah bergeser ke digital. Tapi buku fisik belum sepenuhnya ditinggalkan," ujar Azis Muslim, Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI.
Kenangan serupa dirasakan oleh Mifah, alumni Fakultas Ekonomi UI angkatan 2004, yang menyebut kawasan tersebut sebagai tujuan utama saat mendapatkan daftar bacaan dari dosen. Aktivitas berburu buku di antara tumpukan yang tidak beraturan telah menjadi rutinitas wajib setiap awal semester bagi generasinya.
"Dulu Pondok Cina itu kayak tempat wajib. Kalau dosen kasih daftar bacaan, kita pasti ke sana dulu," kata Mifah, Alumni FE UI.
Mifah menambahkan bahwa keberadaan buku-buku di lapak tersebut menciptakan siklus distribusi pengetahuan yang terus berputar di antara senior dan junior. Hubungan informal antar mahasiswa sering terbentuk melalui interaksi di tempat ini.
"Itu kayak siklus. Buku dari kakak tingkat turun ke adik tingkat. Muter terus," ujar Mifah, Alumni FE UI.
Digitalisasi memang menawarkan kecepatan, namun Mifah menilai ada aspek pengalaman personal yang hilang ketika proses pencarian fisik ditiadakan. Baginya, ada nilai historis yang melekat pada setiap pencarian buku di lapak tersebut.
"Sekarang serba digital, tapi dulu ada pengalaman ÔÇÿberburu ilmuÔÇÖ yang tidak tergantikan," ujar Mifah, Alumni FE UI.
Dira, alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI angkatan 2008, menyatakan bahwa lapak buku Pondok Cina sangat diandalkan untuk mencari koleksi yang tidak tersedia di toko buku besar. Ketidaksengajaan dalam menemukan buku tambahan sering terjadi saat proses pencarian berlangsung.
"Buat anak FIB itu buku wajib banget, dan enggak semuanya ada di toko besar. Jadi Pondok Cina itu jadi andalan," kata Dira, Alumni FIB UI.
Proses manual dalam memilah rak-rak penuh buku memberikan kepuasan tersendiri bagi para pemburu literasi. Dira mengenang bagaimana satu tujuan awal bisa berkembang menjadi pembelian beberapa buku sekaligus.
"Kadang niatnya cari satu buku, pulangnya malah bawa tiga," ujar Dira, Alumni FIB UI.
Dira juga menyoroti nilai intelektual dari catatan-catatan tangan atau coretan pemilik sebelumnya yang sering ditemukan dalam buku bekas. Hal ini memberikan dimensi pembelajaran tambahan yang tidak ditemukan pada berkas digital.
"Kadang ada catatan orang lain di dalamnya. Itu menarik banget, kayak ikut belajar dari mahasiswa sebelumnya," tutur Dira, Alumni FIB UI.
Meskipun mengakui keunggulan kecepatan e-book, Dira tetap merindukan proses pencarian buku yang dianggapnya lebih membekas secara emosional. Ia berharap lokasi ini tetap lestari sebagai bagian dari sejarah pendidikan.
"Sekarang tinggal klik, selesai. Tapi dulu ada proses nyarinya, dan itu yang membekas," ujar Dira, Alumni FIB UI.
Dari sisi pedagang, Didi yang merupakan generasi kedua di Blok Stasiun UI menceritakan penurunan jumlah ruko buku sejak ia mulai membantu usaha keluarga pada 1999. Saat ini hanya sedikit lapak yang mampu bertahan dari tekanan digitalisasi dan dampak pascapandemi.
"Dulu di sini ada delapan ruko. Ramai banget. Mahasiswa muter dari ujung ke ujung," ujar Didi, Pedagang Buku.
Didi menyadari bahwa perubahan kebiasaan mahasiswa yang beralih ke format PDF menjadi tantangan terbesar bagi usahanya. Kewajiban memiliki buku fisik bagi mahasiswa kini tidak sekuat dulu.
"Dulu mahasiswa wajib punya buku. Sekarang cari PDF saja," ujar Didi, Pedagang Buku.
Sementara itu, Pradipta, mahasiswa Ilmu Komunikasi UI, masih memilih lapak fisik karena menawarkan sensasi pencarian yang unik. Harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan buku baru menjadi pertimbangan utama bagi mahasiswa saat ini.
"Kalau PDF tinggal download, selesai. Tapi di sini serunya nyari satu-satu," kata Pradipta, Mahasiswa UI.
Faktor ekonomi juga ditekankan oleh mahasiswa lainnya untuk menekan biaya perkuliahan yang tinggi. Pradipta menyebutkan selisih harga antara buku baru dan buku bekas di lapak tersebut sangat signifikan bagi kantong mahasiswa.
"Buku baru bisa 200 ribu lebih. Di sini bisa 50 atau 70 ribu," ujarnya.
Husna dari FIB UI mengaku sering menemukan buku edisi lama yang sudah tidak diterbitkan lagi di toko buku modern. Hal serupa ditegaskan oleh Farhan, mahasiswa PNJ, yang mencari referensi teknik di lapak ini untuk melengkapi materi dari modul kampus.
"Kadang di toko sudah tidak ada, tapi di sini masih ada," kata Husna, Mahasiswa UI.
"Kalau modul kurang lengkap, saya cari di sini," ujar Farhan, Mahasiswa PNJ.
Nabila, mahasiswa akuntansi PNJ, menutup dengan penegasan bahwa buku bekas tetap menjadi solusi praktis di tengah tingginya harga buku teks asli. Keberadaan lapak ini sangat membantu aksesibilitas materi kuliah yang murah.
"Kalau beli baru mahal banget. Di sini lebih terjangkau," ucap Nabila, Mahasiswa PNJ.