Lapak Buku Mail Pocin Bertahan di Tengah Dominasi Literasi Digital

Lapak Buku Mail Pocin Bertahan di Tengah Dominasi Literasi Digital
Foto: Ilustrasi Lapak Buku Mail Pocin Bertahan di Tengah Dominasi Literasi Digital.

Lapak buku lama Toko Buku Mail Pocin di kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, tetap beroperasi melayani kebutuhan literasi mahasiswa lintas generasi pada Rabu (15/4/2026). Toko sederhana ini menjadi ruang berburu buku fisik dengan harga miring di tengah maraknya penggunaan dokumen digital.

Dilansir dari Megapolitan, pemilik lapak bernama Marita telah menjalankan usaha ini sejak tahun 2006. Kios berukuran 4 x 2 meter tersebut menampung ribuan eksemplar koleksi mulai dari buku hukum, teknik, psikologi, hingga terbitan lama yang sudah jarang ditemukan di toko modern.

"Cari buku apa?" tanya Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Marita mengungkapkan bahwa usahanya sempat mengalami masa sulit saat pandemi melanda. Penurunan minat baca buku fisik terjadi karena banyak mahasiswa mulai beralih menggunakan berkas PDF untuk keperluan kuliah.

"Kalau di sini dari 2011. Dulu saya jualan di Stasiun UI," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Sejarah lapak ini berawal dari kawasan rel Stasiun UI sebelum akhirnya terkena penertiban tata ruang. Sejak pindah ke lokasi saat ini, Marita mencatat bahwa jumlah pedagang buku di sekitarnya terus berkurang hingga menyisakan miliknya yang masih aktif setiap hari.

"Pedagang lain ada yang malah balik lagi ke UI. Jadi gantian," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Meskipun stok buku melimpah, tantangan lain muncul dari perubahan kurikulum sekolah yang sangat cepat. Hal ini membuat buku tingkat SMP dan SMA lebih cepat usang dibandingkan buku referensi perguruan tinggi yang pasarnya lebih stabil.

"Ribuan. Yang paling lama itu dari awal saya buka, 2006," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Koleksi yang tidak tertampung di kios kecil tersebut disimpan di rumahnya dalam jumlah yang jauh lebih besar. Marita menyebutkan bahwa kapasitas buku di kediamannya bisa setara dengan tiga ruko jika ditumpuk secara vertikal.

"Ada yang baru, ada yang bekas," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Sistem penjualan yang diterapkan tidak memungkinkan pengembalian stok ke penerbit untuk buku baru yang tidak laku. Hal ini menjadi risiko kerugian yang harus ditanggung secara mandiri oleh pemilik lapak.

"Di rumah lebih banyak. Bisa tiga ruko kalau ditumpuk," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Mengenai stok buku sekolah, Marita memutuskan untuk tidak lagi memajangnya di kios utama karena kendala tempat. Faktor kebijakan pemerintah terkait pergantian kurikulum juga menjadi pertimbangan bisnisnya saat ini.

"Sekarang buku SMP-SMA udah enggak saya taruh di sini karena tempatnya enggak memadai. Saya simpan di rumah," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Buku kuliah tetap menjadi komoditas utama karena bidang ilmu tertentu seperti hukum dan teknik tidak banyak mengalami perubahan materi. Namun, ia tetap harus waspada terhadap edisi terbaru untuk jurusan ekonomi dan akuntansi.

"Karena program pemerintah, kurikulum sering ganti. Jadi bukunya cepat enggak kepakai. Jadi saya stop," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Mahasiswa sering memberikan informasi langsung kepada Marita mengenai pembaruan buku yang digunakan oleh dosen di kelas. Komunikasi dua arah ini membantu pedagang dalam menyesuaikan ketersediaan stok di lapak.

"Ekonomi sama akuntansi. Mereka sering ganti edisi," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Marita menjelaskan bahwa buku-buku lama terkadang memiliki nilai tinggi bagi kolektor atau mahasiswa yang mencari referensi langka. Ia pernah menjual buku hukum yang sudah rusak namun tetap dihargai tinggi oleh pembeli yang sangat membutuhkannya.

"Mahasiswa biasanya bilang, ÔÇÿBu, udah ganti edisi.ÔÇÖ Jadi saya cari tahu lagi," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Tantangan dalam menghadapi pembeli juga beragam, mulai dari proses tawar-menawar yang ketat hingga pelanggan yang sekadar bernostalgia. Baginya, buku adalah aset ilmu yang akan selalu dicari pada waktunya.

"Kalau stok enggak laku bisa dikembalikan? Enggak. Katanya sudah dibayar, enggak boleh balik. Jadi mendem," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Periode pandemi diakuinya sebagai masa yang paling menekan bagi kelangsungan usaha lapak buku lama. Penurunan pendapatan membuat bisnis ini bergeser dari sumber penghasilan utama menjadi sampingan.

"Ada yang enak, ada yang enggak. Ada yang nawar setengah mati," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Saat ini Marita harus menanggung biaya sewa kios sebesar Rp 14 juta per tahun yang naik dari harga sebelumnya. Kios tersebut tetap dibuka setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB untuk membiayai sekolah ketiga anaknya.

"Mulai awal corona itu yang bikin kita nangis. Minat baca turun, orang beralih ke digital dan PDF," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Meskipun pihak keluarga sempat menyarankan untuk beralih profesi, Marita memilih untuk tetap bertahan di dunia buku. Ia merasa kiosnya telah menjadi identitas yang melekat di kawasan Pondok Cina.

"Bisa berhari-hari enggak dapat pembeli. Itu menyakitkan banget," ucap Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Lapak ini tidak hanya dikunjungi mahasiswa Universitas Indonesia, tetapi juga dari Gunadarma, UNJ, hingga PNJ. Banyak alumni yang sudah bekerja pun kembali datang untuk bernostalgia di lorong buku yang sempit tersebut.

"Dulu ini penghasilan utama. Sekarang jadi sampingan," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Keberadaan lapak ini dinilai penting oleh mahasiswa karena menyediakan buku fisik yang memberikan kepuasan berbeda dibanding versi digital. Harga yang lebih terjangkau menjadi strategi bertahan hidup bagi para mahasiswa dalam memenuhi referensi kuliah.

"Saya buka sendiri, tutup sendiri," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UI, Pradipta, menyebut lapak ini sebagai arsip intelektual yang menyimpan jejak pemilik sebelumnya melalui catatan tangan di halaman buku. Hal serupa disampaikan Husna dari FIB UI yang merasa terbantu dalam mencari buku sastra spesifik.

"Capek, tapi demi anak-anak," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI, Muh Azis Muslim, menambahkan bahwa budaya bursa buku murah sudah ada sejak tahun 1990-an di lingkungan kampus. Tren digital memang dominan, namun kebutuhan buku fisik tetap ada terutama pada program studi tertentu seperti hukum.

"Suami saya bilang, ÔÇÿudah ubah aja, jangan buku lagiÔÇÖ," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

Azis menilai fungsi lapak buku bekas kini bergeser menjadi tempat mencari buku edisi langka. Nilai nostalgia menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung yang datang ke kawasan Pondok Cina.

"Sekarang tinggal satu-satu di Pondok Cina," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

"UI, Gundar, UNJ, PNJ. Macam-macam," kata Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

"Ada yang sudah kerja masih datang lagi. Biasanya nostalgia," ujar Marita, Pemilik Toko Buku Mail Pocin.

"Dari maba udah dikenalin kakak tingkat. Katanya kalau mau buku murah dan lengkap, ya ke Pondok Cina," kata Pradipta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI.

"Kadang ada coretan mahasiswa dulu. Jadi kayak baca buku sambil lihat cara orang lain belajar zaman sebelumnya," kata Pradipta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI.

"Kalau butuh buku buat tugas atau referensi, saya biasanya langsung ke sini dulu," kata Husna, Mahasiswi FIB UI.

"Kalau semua buku harus beli baru, uang bulanan bisa habis buat buku doang," kata Husna, Mahasiswi FIB UI.

"Kalau modul kampus ada, tapi kadang kurang lengkap. Jadi saya cari buku yang lebih detail buat pegangan," kata Farhan Maulana, Mahasiswa PNJ.

"Buku baru mahal banget. Kalau di toko bisa Rp 200.000 lebih. Di sini saya pernah dapat buku Rp 60.000-an," ujar Farhan Maulana, Mahasiswa PNJ.

"Kalau buat skripsi atau tugas akhir, saya lebih percaya buku. Soalnya kalau sumber dari internet kadang nggak jelas," kata Arya, Mahasiswa Universitas Gunadarma.

"Kalau di toko buku modern bisa ratusan ribu. Di sini lebih masuk akal," ujar Arya, Mahasiswa Universitas Gunadarma.

"Dulu Pondok Cina itu kayak tempat wajib. Kalau dosen kasih daftar bacaan, kita pasti ke sana dulu sebelum ke toko buku," kata Mifah, Alumni Fakultas Ekonomi UI.

"Itu kayak siklus. Buku dari kakak tingkat turun ke adik tingkat. Kita beli murah, nanti kalau lulus kita jual lagi," ujar Mifah, Alumni Fakultas Ekonomi UI.

"Pedagangnya hafal banget. Kita sebut nama dosen aja, mereka langsung bilang, ÔÇÿOh kalau dosen itu biasanya pakai buku iniÔÇÖ," kata Mifah, Alumni Fakultas Ekonomi UI.

"Buku anak FIB itu banyak yang spesifik banget. Kadang judulnya nggak ada di Gramedia. Tapi di Pondok Cina sering ada," kata Dira, Alumni FIB UI.

"Kalau semuanya pindah ke PDF, memang praktis. Tapi ada nilai yang hilang. Tempat seperti Pondok Cina itu punya atmosfer yang enggak bisa diganti," kata Dira, Alumni FIB UI.

"Kami rutin mengadakan Pekan Buku Murah, bisa dua kali setahun, biasanya di awal semester," kata Azis, Dosen UI.

"Mahasiswa sekarang sudah banyak bergeser ke yang digital, PDF atau e-book," ujar Azis, Dosen UI.

"Masih ada dosen-dosen yang mewajibkan mahasiswa membawa buku referensi inti dalam bentuk fisik," kata Azis, Dosen UI.

"Sekarang berburu buku itu lebih ke nostalgia, cari buku lama, cari edisi langka," kata Azis, Dosen UI.

Artikel terkait

Rekomendasi