Laba Chandra Asri Melonjak Memicu Reli Saham TPIA dan BRPT

Laba Chandra Asri Melonjak Memicu Reli Saham TPIA dan BRPT
Foto: Ilustrasi Laba Chandra Asri Melonjak Memicu Reli Saham TPIA dan BRPT.

Lonjakan laba bersih PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar US$ 205 juta pada kuartal I-2026 berhasil memicu reli tajam harga saham perseroan beserta induk usahanya di Bursa Efek Indonesia pada Senin (13/4/2026).

Dilansir dari Investortrust, harga saham emiten petrokimia milik Prajogo Pangestu ini melesat 10,29 persen ke posisi Rp 6.700 per lembar hingga pukul 14.30 WIB. Langkah ini diikuti saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melonjak 16,45 persen menjadi Rp 2.230.

Kenaikan instrumen investasi tersebut mengakumulasi pertumbuhan saham TPIA hingga 67,91 persen dalam lima hari terakhir dari posisi Rp 3.990 pada 6 April. Sementara itu, saham BRPT melambung lebih dari 73,43 persen dalam enam hari terakhir dari Rp 1.280 ke Rp 2.220.

Pertumbuhan finansial perseroan ditopang oleh perolehan EBITDA kuartal pertama yang menyentuh angka US$ 421 juta. Manajemen emiten juga melaporkan kepemilikan likuiditas yang solid mencapai US$ 3,8 miliar demi menjaga ketahanan operasional dari volatilitas pasar global.

"Kinerja positif ini turut didorong oleh keberhasilan integrasi aset strategis, termasuk akuisisi kilang Shell Singapore dan jaringan ritel ExxonMobil Singapore yang diselesaikan dalam satu tahun terakhir. Integrasi tersebut memperkuat basis pendapatan sekaligus meningkatkan skala bisnis secara signifikan," tulis penjelasan resmi Manajemen TPIA.

Pihak manajemen menambahkan bahwa stabilitas operasional tetap terjaga melalui kedisiplinan biaya serta optimalisasi rantai nilai terintegrasi di tengah kelebihan pasokan industri petrokimia. Strategi pemilihan bahan baku baku juga diklaim berhasil memaksimalkan margin kilang saat terjadi disrupsi Timur Tengah.

Ekspansi jangka panjang emiten kini dilanjutkan melalui penyelesaian proyek fasilitas Butene-1 dan MTBE di Cilegon. Anak usaha mereka, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), juga terus memperluas infrastruktur logistik demi mengejar pendapatan berulang.

Langkah strategis tersebut diperkuat dengan komitmen alokasi belanja modal sebesar US$ 1 miliar untuk pembangunan fasilitas caustic soda dan ethylene dichloride. Kompleks industri hilirisasi nasional skala dunia ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027.

Artikel terkait

Rekomendasi