Arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Maladewa dilaporkan mengalami penurunan signifikan pada pertengahan April 2026 akibat dampak konflik di wilayah Timur Tengah. Meski terjadi perlambatan, otoritas setempat menegaskan bahwa sektor pariwisata tidak mengalami kelumpuhan total sebagaimana isu yang berkembang di media sosial.
Berdasarkan data resmi pemerintah yang dilansir dari Detik Travel pada Kamis (16/4/2026), Maladewa mencatat total 653.513 kedatangan pengunjung hingga 1 April 2026. Angka tersebut sebenarnya menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, fluktuasi tajam terlihat pada data bulanan di mana Maret 2026 mencatatkan penurunan kunjungan sebesar 20,7 persen secara tahunan. Kondisi ini memicu munculnya konten viral dari seorang pembuat video asal Swedia yang mengeklaim bahwa tingkat kunjungan di Pulau Dhiffushi telah merosot drastis.
Penurunan ini disinyalir berkaitan erat dengan gangguan rute penerbangan global, mengingat banyak wisatawan jarak jauh dari Amerika Serikat dan Eropa harus transit melalui pusat transportasi di Dubai, Doha, atau Istanbul. Saat ini, pasar utama Maladewa didominasi oleh Tiongkok dengan 14,9 persen, diikuti Rusia 12,5 persen, dan Inggris 9,7 persen.
Menteri Pariwisata dan Lingkungan Maladewa, Thoriq Ibrahim, dalam konferensi pers pada 22 Maret 2026, mengakui bahwa situasi geopolitik saat ini memberikan tekanan terhadap aksesibilitas transportasi udara menuju negara kepulauan tersebut. Ia menyebut sekitar 30 persen wisatawan bergantung pada maskapai yang berbasis di Timur Tengah.
Pemerintah Maladewa kini tengah menjajaki berbagai strategi untuk mempertahankan okupansi penginapan, termasuk rencana mempermudah perpanjangan visa bagi wisatawan yang sudah berada di sana. Selain itu, pemerintah sedang mempertimbangkan pengenalan kategori visa baru untuk menarik segmen pekerja digital.
Langkah adaptasi juga dilakukan oleh pihak maskapai internasional seperti British Airways, Edelweiss Air, Air India, dan Aeroflot yang mulai menyesuaikan frekuensi serta rute penerbangan alternatif. Upaya ini dilakukan guna memastikan konektivitas tetap terjaga meskipun terjadi gangguan ruang udara di jalur utama menuju Maladewa.