Dome of the Rock atau yang dikenal sebagai Kubah Batu berdiri sebagai salah satu bangunan paling ikonik dalam sejarah dunia Islam. Terletak di Kota Tua Yerusalem, struktur megah ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat mendalam.
Dilansir dari Kompas, bangunan berkubah emas ini didirikan oleh Abd al-Malik ibn Marwan, seorang khalifah dari Dinasti Umayyah. Pembangunan monumen ini berlangsung pada akhir abad ke-7 Masehi dan menjadi bukti kejayaan peradaban masa itu.
Prasasti yang tertanam di bangunan tersebut menunjukkan bahwa proses konstruksi rampung sekitar tahun 691ÔÇô692 M atau tahun 72 Hijriah. Hal ini menjadikannya sebagai monumen Islam tertua yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.
Lokasi berdirinya Kubah Batu dikenal oleh umat Islam dengan sebutan al-Haram al-Sharif atau Tempat Suci yang Mulia. Kawasan ini telah menjadi pusat spiritual bagi berbagai agama jauh sebelum kehadiran Islam di Yerusalem.
Dalam tradisi Yahudi, wilayah tersebut dikenal sebagai Temple Mount atau Bukit Bait Suci. Di lokasi ini diyakini pernah berdiri Bait Suci Yerusalem yang dibangun oleh Nabi Sulaiman sebelum akhirnya dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 M.
Ketika Khalifah Umar ibn al-Khattab mengambil alih Yerusalem pada tahun 638 M, kota tersebut sudah dipenuhi dengan berbagai struktur gereja dan biara. Dinasti Umayyah kemudian membangun Kubah Batu sebagai proyek monumental untuk mempertegas identitas Islam.
Kaitan Erat dengan Peristiwa Isra Miraj
Bagi umat Islam, Kubah Batu memiliki makna teologis yang sangat penting. Di bawah kubah besar tersebut terdapat sebuah batu besar yang dipercaya sebagai titik berangkatnya Nabi Muhammad SAW menuju langit dalam peristiwa Mi'raj.
Lokasi ini juga berkaitan erat dengan peristiwa Isra, yakni perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Namun, sering terjadi kekeliruan di masyarakat mengenai identitas bangunan ini.
Kubah Batu sering disangka sebagai Masjid Al-Aqsa, padahal keduanya adalah bangunan yang berbeda. Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan utama di sisi selatan kompleks yang memiliki ciri khas kubah berwarna abu-abu gelap.
Keunikan Arsitektur dan Ornamen
Secara teknis, Kubah Batu memiliki bentuk segi delapan yang unik dengan kubah kayu berlapis emas di bagian tengahnya. Kubah tersebut memiliki diameter sekitar 20 meter dan ditopang oleh lingkaran pilar serta kolom yang megah.
Dinding bangunan dihiasi dengan marmer, mosaik, serta ornamen logam yang sangat detail. Meskipun teknik mosaiknya mendapat pengaruh dari tradisi Bizantium, dekorasi di dalamnya tidak menampilkan gambar manusia atau hewan.
Sesuai dengan prinsip Islam, ornamen bangunan lebih banyak menonjolkan pola tumbuhan, mahkota, perhiasan, dan kaligrafi Arab. Kaligrafi tersebut memuat ayat-ayat Al-Quran yang memperkuat karakter visual arsitektur Islam awal.
Fungsi dan Transformasi Sejarah
Sejarawan masih mendiskusikan fungsi asli dari bangunan ini karena desainnya tidak dirancang untuk menampung salat berjamaah dalam jumlah besar. Sebagian ahli berpendapat bahwa pembangunannya bertujuan menunjukkan Islam sebagai penerus tradisi Nabi Ibrahim.
Kemegahan Kubah Batu sengaja dibuat untuk bersandingan dengan gereja-gereja Kristen di Yerusalem, seperti Church of the Holy Sepulchre. Ada pula teori yang menyebutkan bahwa bangunan ini memiliki simbolisme terkait hari penghakiman.
Sepanjang lintas zaman, bangunan ini telah melewati berbagai fase renovasi oleh dinasti Abbasiyah, Fatimiyah, hingga Ayyubiyah. Bahkan pada masa Perang Salib tahun 1099, bangunan ini sempat difungsikan sebagai gereja oleh pasukan Kristen.
Restorasi besar terjadi pada abad ke-16 di bawah perintah Sultan Ottoman, Suleiman the Magnificent, yang mengganti mosaik luar dengan ubin keramik. Terakhir, pada abad ke-20, keluarga kerajaan Hashemite melapisi kembali kubahnya dengan emas murni.