Pemerintah Korea Utara meluncurkan uji coba rudal balistik Hwasong-11 Ra yang dilengkapi hulu ledak amunisi kluster dan ranjau fragmentasi pada Minggu (20/4/2026). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat persenjataan asimetris Pyongyang guna menghadapi kekuatan teknologi militer lawan yang lebih unggul.
Uji coba tersebut difokuskan pada evaluasi kekuatan hulu ledak yang telah ditingkatkan untuk dipasang pada rudal balistik taktis permukaan ke permukaan. Dilansir dari Kompas, pengembangan ini menyusul pengamatan efektivitas senjata serupa dalam konflik di Timur Tengah dan Ukraina.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mendeteksi adanya penembakan beberapa rudal balistik dari wilayah Sinpo menuju Laut Timur pada hari Minggu tersebut. Berdasarkan pantauan militer Seoul, proyektil-proyektil itu menempuh jarak sekitar 140 kilometer sebelum jatuh di perairan dekat Alsom.
Media pemerintah Rodong Sinmun melaporkan bahwa misi utama peluncuran ini adalah untuk memverifikasi karakteristik serta daya hancur hulu ledak bom tandan dan ranjau fragmentasi. Eksperimen ini sekaligus menjadi sinyal peningkatan ancaman bagi keamanan wilayah Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dilaporkan hadir langsung mengamati proses peluncuran rudal balistik tersebut. Dalam kegiatan di lapangan, ia didampingi oleh putrinya, Kim Ju-ae, saat memantau unjuk kekuatan hulu ledak yang dinilai lebih mematikan bagi target di Korea Selatan.