Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) melaporkan lonjakan harga bahan baku material kabel fiber optik di Indonesia pada Selasa (14/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah yang mengganggu stabilitas rantai pasok global.
Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy, mengungkapkan bahwa harga material pelindung kabel atau High-Density Polyethylene (HDPE) mengalami peningkatan signifikan antara 15 hingga 17 persen. Lonjakan ini berdampak langsung pada biaya pembangunan infrastruktur internet nasional.
Dilansir dari Detik iNET, harga pipa HDPE yang semula berada di kisaran Rp 10.000 per meter kini merangkak naik sebesar Rp 1.500 hingga Rp 1.700 per meter. Peningkatan biaya ini dinilai sangat memberatkan para pelaku industri penyelenggara jaringan.
"Harga HDPE itu naik secara signifikan hampir 15-17%. Kalau sebelumnya sekitar Rp 10 ribu per meter, sekarang bisa naik Rp 1.500 sampai Rp 1.700. Itu sangat signifikan," ungkap Jerry Mangasas Swandy, Ketua Umum Apjatel.
Gangguan distribusi logistik global melalui titik strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi persepsi pasar dunia. Selain HDPE, material inti kabel seperti corning juga mengalami tekanan harga akibat situasi keamanan yang memanas di kawasan tersebut.
Jerry menambahkan bahwa efek domino dari situasi geopolitik ini tidak dapat dihindari oleh industri telekomunikasi dalam negeri. Apjatel kini terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok material di pasar internasional agar proyek tulang punggung internet tidak terhenti.
Pihak asosiasi berharap Pemerintah Indonesia memberikan atensi khusus untuk memitigasi dampak negatif konflik luar negeri terhadap sektor digital. Langkah antisipasi diperlukan guna menjaga keberlanjutan pembangunan jaringan telekomunikasi yang tengah digalakkan di berbagai wilayah.