Komdigi Terapkan Metode FDD dan TDD untuk Seleksi Frekuensi 2026

Komdigi Terapkan Metode FDD dan TDD untuk Seleksi Frekuensi 2026
Foto: Ilustrasi Komdigi Terapkan Metode FDD dan TDD untuk Seleksi Frekuensi 2026.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memutuskan untuk menerapkan dua metode berbeda dalam proses seleksi frekuensi tahun ini. Langkah strategis ini mencakup penggunaan metode Frequency Division Duplexing (FDD) untuk pita 700 MHz dan Time Division Duplexing (TDD) pada pita 2,6 GHz.

Pemilihan kedua sistem transmisi ini, seperti dilansir dari Teknologi, menjadi elemen krusial dalam menentukan kualitas arsitektur jaringan di masa depan. Perbedaan karakteristik antara FDD dan TDD dinilai sangat esensial bagi peta jalan pemerataan akses data di seluruh wilayah nasional.

FDD bekerja dengan memanfaatkan spektrum berpasangan untuk memisahkan jalur penerimaan dan pengiriman data pada gelombang yang berbeda. Di sisi lain, TDD beroperasi secara efisien pada satu pita frekuensi tunggal dengan sistem pembagian slot waktu transmisi yang bergantian secara cepat.

Mekanisme kerja TDD dinilai sangat selaras dengan perilaku konsumsi lalu lintas data masyarakat modern saat ini. Fakta menunjukkan bahwa penggunaan koneksi unduhan (downlink) di tingkat pengguna jauh lebih dominan jika dibandingkan dengan aktivitas pengunggahan (uplink).

Efisiensi spektrum pada teknologi TDD terlihat paling menonjol saat melayani beban lalu lintas data yang bersifat asimetris. Model arsitektur ini dianggap sangat ideal untuk menopang layanan berat satu arah seperti pengaliran video, televisi protokol internet, hingga sistem kamera pengawas.

Keunggulan Jangkauan dan Stabilitas FDD

Berbeda dengan TDD, teknologi jaringan FDD menawarkan stabilitas keseimbangan akses antara aktivitas pengunduhan dan pengunggahan. Model ini beroperasi secara paralel tanpa memerlukan alokasi pembagian waktu pada pita frekuensi yang digunakan.

Sistem tersebut memungkinkan aliran transmisi data berjalan mulus secara kontinu tanpa mengalami penundaan antrean transmisi. Keunggulan operasional utama lainnya dari FDD terletak pada luasnya rentang jangkauan sinyal seluler yang mampu dipancarkan ke area sekitar.

Berdasarkan data pengujian lapangan pada frekuensi komersial yang sudah ada, daya tembus sinyal FDD terbukti memancar lebih jauh secara signifikan. Cakupan area transmisi terjauh untuk infrastruktur FDD tercatat mampu mencapai radius hingga 789 meter dari menara pemancar dasar.

Sebaliknya, daya jangkau operasional perangkat TDD hanya sanggup menembus jarak maksimal 633 meter. Keterbatasan jangkauan fisik ini membuat teknologi TDD dinilai kurang optimal jika dipaksakan untuk dieksekusi di wilayah hamparan yang sangat luas.

Strategi Implementasi pada Frekuensi 700 MHz

Karakteristik penyebaran sinyal yang luas memberikan pengaruh strategis pada rencana implementasi lelang di pita frekuensi rendah 700 MHz. Secara fisika, gelombang pada frekuensi 700 MHz memiliki kemampuan penetrasi hambatan ruang dan rentang jangkauan yang superior.

Dari sisi operasional, operator seluler hanya akan memerlukan volume penggelaran menara fisik yang lebih sedikit. Hal ini dikarenakan radius jangkauan dari setiap perangkat dapat bekerja dengan kapasitas yang lebih maksimal untuk melayani pengguna.

Meskipun arsitektur FDD secara historis masih mendominasi bisnis seluler konvensional akibat regulasi generasi pendahulu, tren global mulai bergeser. Eskalasi valuasi harga lelang spektrum memaksa lanskap investasi bergerak menuju adopsi teknologi TDD secara agresif.

Kemampuan dasar TDD yang dapat bekerja mandiri secara optimal pada satu blok pita menjadikannya alternatif solid untuk menekan beban operasional di masa depan. Tren efisiensi ini diprediksi akan menjadikan teknologi berbasis pembagian waktu tersebut sebagai tulang punggung jaringan telekomunikasi ritel global.

Artikel terkait

Rekomendasi