Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) memberikan klarifikasi resmi pada Rabu (29/4) mengenai isu pembatasan durasi aktivitas menyelam bagi wisatawan. Otoritas menegaskan bahwa kebijakan yang berlaku bukan membatasi waktu menyelam setiap individu, melainkan mengatur jeda keberangkatan antarkelompok penyelam di lokasi yang sama.
Dilansir dari Detik Travel, aturan ini bertujuan untuk memecah kepadatan di titik-titik selam populer guna menjaga kelestarian ekosistem bawah laut. Penanggung Jawab Bidang Marine BTNK, Ande Kefi, menjelaskan bahwa koreksi diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi di tengah masyarakat dan pelaku wisata.
"Perlu dikoreksi, bukan waktu selam dibatasi 20 menit, tetapi interval waktu antar grup penyelam adalah 20 menit," jelas Andi Kefi dalam keterangan yang diterima, Rabu (29/4).
Langkah ini merupakan bagian dari sosialisasi panduan bertajuk 20 Minutes Rule Komodo yang mewajibkan setiap kapal wisata menunggu minimal 20 menit sebelum menurunkan grup baru. Mekanisme pengaturan di lapangan menggunakan sistem antrean bagi para operator wisata selam yang berkunjung.
"Sistem berlaku berdasarkan first come, first served," ucap dia.
Ande menambahkan bahwa koordinasi antara kapten kapal dan pemandu selam sangat krusial saat kondisi di lokasi tujuan sudah terlalu padat. Pihak otoritas menyarankan operator untuk mengalihkan wisatawan ke lokasi alternatif jika titik utama tidak memungkinkan untuk dimasuki guna menjamin kenyamanan.
Beberapa kawasan yang menjadi prioritas penerapan aturan interval ini meliputi spot populer seperti Batu Bolong, Crystal Rock, dan Castle Rock. Ketiga lokasi tersebut memiliki karakteristik arus kuat dan keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga memerlukan pengawasan ketat dari tekanan aktivitas manusia.
Selain perlindungan terhadap terumbu karang, kebijakan ini mencakup aspek keselamatan navigasi dan pemberian akses yang adil bagi seluruh pengunjung. BTNK menekankan bahwa status TN Komodo sebagai Warisan Dunia UNESCO dan bagian dari Coral Triangle menuntut pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
"Kami ingin memastikan aktivitas wisata selam tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan untuk masa depan," tutup pernyataan tersebut.
Pihak pengelola berharap para wisatawan dapat memahami bahwa regulasi ini bukan merupakan hambatan dalam beraktivitas. Penegasan ini menjadi komitmen BTNK dalam menjaga kualitas pengalaman wisata sekaligus melindungi habitat laut di kawasan konservasi tersebut.