Media sosial baru-baru ini digemparkan oleh narasi sensasional yang mengeklaim bahwa Iran telah mengakhiri masa kekeringan panjang. Hal ini disebut terjadi setelah militer setempat menghancurkan fasilitas rahasia milik Amerika Serikat dan Israel.
Kabar yang viral di platform X dan TikTok ini menyebutkan bahwa fasilitas tersebut merupakan pusat pengendalian cuaca. Hujan deras dan salju yang turun tiba-tiba di kawasan Iran dianggap sebagai bukti keberhasilan serangan tersebut.
Dilansir dari Detik iNET, narasi ini menyebutkan bahwa Iran menyerang pusat pembenihan awan atau cloud seeding di Uni Emirat Arab serta sistem radar di Qatar. Serangan itu diklaim berhasil memutus jaringan manipulasi cuaca global.
Dampaknya dilaporkan sangat signifikan, di mana suhu di Teheran turun hingga 5 derajat Celsius. Sejumlah wilayah yang sebelumnya gersang bahkan mengalami banjir akibat curah hujan yang sangat tinggi.
Meskipun narasi tersebut menyebar cepat, para ilmuwan memberikan penjelasan yang sangat berbeda. Mengutip para ahli dari DW, klaim mengenai senjata cuaca ini dinilai sebagai bentuk salah paham terhadap teknologi cloud seeding.
Profesor fisika atmosfer, Edward Gryspeerdt, menjelaskan bahwa teknologi pembenihan awan memiliki batasan yang sangat ketat. Teknologi ini membutuhkan keberadaan awan yang sudah terbentuk secara alami untuk bisa bekerja.
"Tidak mungkin langit cerah tiba-tiba disemai lalu langsung hujan. Awan harus sudah ada dan siap turun hujan," kata Edward Gryspeerdt.Secara teknis, metode ini hanya mampu meningkatkan intensitas curah hujan sekitar 5 persen hingga 20 persen saja. Kapasitasnya pun bersifat lokal dan tidak sanggup mengubah pola cuaca dalam skala besar antarnegara.
Realitas Krisis Air di Iran
Para meteorolog menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di Iran murni disebabkan oleh faktor alam. Pola iklim global dan variabilitas atmosfer menjadi pemicu utama perubahan cuaca regional yang ekstrem tersebut.
Meski demikian, Iran memang sedang berjuang melawan krisis air yang sangat serius dalam beberapa tahun terakhir. Faktor perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya yang buruk memperparah kondisi kekeringan di sana.
Kondisi krisis air yang mendekati titik nol atau Day Zero membuat masyarakat cenderung mudah percaya pada teori konspirasi. Penjelasan sederhana tentang intervensi militer sering kali lebih menarik dibandingkan data ilmiah yang kompleks.
Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut mempercepat penyebaran berita bohong tersebut. Hingga saat ini, tidak ada bukti valid yang mendukung adanya teknologi pengendali cuaca sebagai senjata perang.