Bagi sebagian besar orang, melihat adalah hal biasa. Namun bagi Arif Prasetyo, dunia hadir tanpa rupa sejak lahir.
Lahir di Ngawen dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan fisik, Arif tumbuh di lingkungan yang menuntutnya kuat. Ayah dan ibunya adalah penyandang disabilitas netra, begitu pula sebagian besar saudara kandungnya. Ayahnya mengamen di sepanjang Malioboro, sementara ibunya bekerja sebagai tukang pijat. Dari ruang yang sunyi cahaya inilah, Arif memulai perjalanan panjang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan titik awal untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Masa kecil Arif tak luput dari pahitnya diskriminasi. Ia pernah ditolak oleh dua sekolah dasar umum di sekitar tempat tinggalnya dengan alasan pihak sekolah belum siap menerima siswa disabilitas. Penolakan itu memaksanya berpisah dari rumah sejak kecil untuk bersekolah di SDLB Kota Yogyakarta dan tinggal di asrama.
Namun, Arif memilih membalas penolakan tersebut dengan cara yang elegan. Setiap kali pulang ke rumahnya di Ngawen, ia selalu membawa piala untuk dipajang di ruang tamu.