Ketua KPI: Industri Penyiaran Tak Boleh Berjuang Sendiri Hadapi Disrupsi Terbaru 2026

Ketua KPI: Industri Penyiaran Tak Boleh Berjuang Sendiri Hadapi Disrupsi Terbaru 2026
Foto: Ketua KPI: Industri Penyiaran Tak Boleh Berjuang Sendiri Hadapi Disrupsi Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Ubaidillah, memberikan penekanan khusus pada peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026. Ia menyatakan bahwa momentum bersejarah ini harus menjadi pendorong kuat bagi seluruh industri penyiaran di tanah air.

Menurutnya, nilai-nilai luhur Pancasila perlu diinternalisasi lebih dalam ke dalam setiap konten siaran. Hal ini penting agar media tetap menjadi pilar yang memperkokoh jati diri bangsa di tengah arus informasi yang kian masif.

Pernyataan tersebut disampaikan Ubaidillah saat menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Gedung Pancasila, Jakarta, pada Senin (1/6/2026). Acara kenegaraan tersebut berlangsung secara khidmat dengan kehadiran jajaran pemimpin tertinggi negara.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir langsung memimpin upacara, didampingi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, seluruh jajaran menteri kabinet serta pimpinan lembaga tinggi negara turut memberikan penghormatan dalam prosesi sakral tersebut.

Pancasila Sebagai Fondasi Konten Siaran Nasional

Peringatan tahun ini mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia". Ubaidillah menegaskan bahwa tema ini memiliki makna mendalam bagi tanggung jawab sosial lembaga penyiaran nasional.

Ia menyampaikan bahwa industri televisi dan radio memiliki kewajiban moral untuk menjaga frekuensi publik agar tidak tercemar konten negatif. Konten yang disiarkan harus mampu merekatkan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Poin-poin utama yang ditekankan oleh Ketua KPI Pusat dalam momentum ini antara lain:

  • Internalisasi Nilai Dasar: Memasukkan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial ke dalam setiap program acara.
  • Fungsi Edukasi: Menjadikan tayangan di ruang keluarga sebagai sarana inspirasi yang mendidik bagi seluruh lapisan masyarakat.
  • Penjaga Persatuan: Memastikan konten siaran dari Sabang sampai Merauke memiliki semangat yang sama untuk menjaga keutuhan NKRI.
  • Kualitas Konten: Mendorong produksi siaran yang bermutu tinggi tanpa hanya terpaku pada mengejar rating atau kepentingan komersial semata.

Ubaidillah berharap Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi roh dari setiap produk siaran yang dinikmati masyarakat setiap harinya. Melalui tayangan yang sehat, nilai-nilai dasar negara dapat membumi dengan lebih efektif di tengah keluarga Indonesia.

Menghadapi Tantangan Disrupsi Digital Secara Kolektif

Meski memiliki misi mulia, Ketua KPI menyadari bahwa tantangan yang dihadapi industri penyiaran saat ini sangat kompleks. Fenomena disrupsi digital dan pergeseran pola konsumsi media memaksa pelaku industri untuk beradaptasi dengan cepat.

Ia menyoroti bahwa perjuangan menghadapi badai disrupsi ini tidak bisa dilakukan oleh lembaga penyiaran sendirian. Diperlukan dukungan nyata dan keberpihakan dari berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga ekosistem media nasional tetap sehat.

Beberapa bentuk dukungan yang diperlukan untuk memperkuat ekosistem penyiaran adalah:

Pihak Terkait Bentuk Dukungan dan Kolaborasi
Pemerintah & Regulator Menyusun regulasi yang adaptif, adil, dan memberikan perlindungan terhadap industri media lokal.
Lembaga Penyiaran Konsisten memproduksi konten berkualitas yang menjunjung tinggi kode etik dan nilai moral.
Masyarakat Luas Meningkatkan literasi media agar menjadi penonton yang kritis dalam memilih tayangan yang sehat.

Kolaborasi menyeluruh ini dianggap sebagai kunci utama agar media penyiaran tetap kokoh sebagai benteng budaya bangsa. Tanpa sinergi yang kuat, industri dikhawatirkan akan terjebak dalam arus komersialisme yang mengabaikan nilai-nilai edukasi.

Refleksi dan Aksi Nyata Insan Penyiaran

Menutup pernyataannya di hadapan awak media, Ubaidillah mengajak seluruh insan penyiaran untuk menjadikan tahun 2026 sebagai titik balik. Peringatan Hari Lahir Pancasila harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas siaran hingga ke pelosok negeri agar tetap sejalan dengan napas Pancasila. Hal ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi penyiaran nasional yang berwibawa di mata dunia.

Menurutnya, dengan ekosistem yang kuat dan siaran yang sehat, Indonesia dapat mengirimkan pesan perdamaian kepada dunia internasional melalui media. Hal ini sejalan dengan cita-cita besar bangsa untuk menjadi pelopor perdamaian global.

Ubaidillah mengakhiri pesannya dengan mengucapkan Selamat Hari Lahir Pancasila 2026 kepada seluruh masyarakat dan pelaku industri media. Ia optimis bahwa kebersamaan semua pihak akan membawa dunia penyiaran Indonesia ke arah yang lebih baik dan bermartabat.

Artikel terkait

Rekomendasi