Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mempermudah rutinitas kerja, khususnya di sektor teknologi informasi (TI). Namun, di balik efisiensi tersebut, adopsi AI yang berlebihan dinilai mulai mengikis kemampuan berpikir kritis karyawan muda.
Survei terbaru dari GoTo dan Workplace Intelligence mengungkapkan bahwa separuh dari total responden mengaku sangat bergantung pada teknologi AI. Laporan bertajuk 2026 Pulse of Work tersebut melibatkan 2.500 pekerja kantoran dan manajer TI guna melihat peta penerapan AI, dikutip dari Lestari.
"Kami menemukan bahwa hampir seluruh pemimpin TI (98 persen) mengatakan perusahaan mereka menggunakan AI, dan 82 persen karyawan menggunakan alat tersebut dalam pekerjaan demi menghemat lebih dari dua jam per hari," tulis laporan Pulse of Work 2026.
Data riset menunjukkan sebesar 62 persen pekerja dari generasi Z (Gen Z) menjadikan AI sebagai penopang utama dalam menyelesaikan tugas. Bahkan, 40 persen di antaranya mengklaim tidak mampu menjalankan pekerjaan tanpa bantuan alat bertenaga AI tersebut.
Mengenai jenis instrumen yang diadopsi, enam dari 10 pimpinan perusahaan memanfaatkan perangkat AI gratis (61 persen) serta sistem yang dibeli dari penyedia eksternal (58 persen). Di sisi lain, sebanyak 27 persen perusahaan memilih mengembangkan kecerdasan buatan secara mandiri untuk operasional internal.Secara umum, angka keterlibatan karyawan dalam penggunaan AI di kantor melonjak menjadi 82 persen dari yang sebelumnya 78 persen pada tahun 2025. Frekuensi pemakaian juga kian intensif karena 90 persen pengguna mengoperasikannya setiap minggu, naik dari angka 85 persen pada tahun lalu.
Beberapa korporasi global seperti Amazon bahkan dilaporkan mendorong tokenmaxxing, yaitu memotivasi karyawan untuk memakai token AI sebanyak-banyaknya. Kendati demikian, tingginya angka adopsi teknologi ini tidak serta-merta mencerminkan penggunaan yang bertanggung jawab ataupun efektif.
"Karyawan mengaku terlalu bergantung pada alat AI, menggunakan hasil berkualitas rendah, dan menyalahgunakan AI untuk tugas-tugas yang seharusnya membutuhkan penilaian manusia," jelas laporan Pulse of Work.
Pola pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab ini pada akhirnya memicu dampak negatif yang berimbas langsung terhadap stabilitas bisnis. Kekeliruan dalam pengoperasian AI dilaporkan memengaruhi kepuasan pelanggan, merusak ritme operasional, hingga menggerus profitabilitas perusahaan.
Dampak psikologis juga muncul di lingkungan kerja karena sejumlah responden mengkhawatirkan risiko disalahkan apabila sistem AI melakukan kesalahan fatal. Ketakutan ini memicu keraguan di kalangan pekerja yang kemudian membatasi potensi peningkatan produktivitas dari teknologi tersebut.
Sebelumnya, studi komparatif dari Microsoft pada tahun 2025 memaparkan bahwa ketergantungan masif terhadap AI berkorelasi langsung dengan penurunan ketajaman berpikir kritis. Sementara itu, riset dari AI Writer menemukan kecenderungan sebagian pekerja Gen Z mulai menghambat implementasi AI karena khawatir posisi mereka akan tergantikan.
Dilema Nilai Tambah Pekerja
CEO GoTo, Rich Veldran mengonfirmasi fenomena konflik serupa yang terekam jelas dalam survei internal mereka. Menurutnya, kecemasan tersebut berakar dari asumsi bahwa eksistensi para pekerja akan dianggap tidak relevan lagi jika AI mampu mendominasi seluruh deskripsi pekerjaan mereka.
ÔÇ£Ada juga ketakutan bahwa jika terlalu bergantung pada AI, apa yang Anda lakukan menjadi tidak terlalu bernilai, karena jika pekerjaan Anda hanya mengambil jawaban dari AI tanpa menambahkan nilai pribadi lainnya, siapa pun bisa melakukannya," beber Veldran.
Di sisi lain, laporan ini mendeteksi adanya peluang efisiensi besar yang sejauh ini belum mampu dioptimalkan secara menyeluruh oleh pihak manajemen. Karyawan memperkirakan masih menghabiskan waktu sekitar 2,6 jam per hari untuk tugas-tugas administratif yang sebenarnya bisa didelegasikan ke program AI.
Faktor utama minimnya optimalisasi ini disebabkan oleh ketidakpahaman mayoritas responden mengenai metode mengeksplorasi AI secara maksimal. Di Amerika Serikat, pemanfaatan sistem kecerdasan buatan yang belum matang ini diproyeksikan menyia-nyiakan potensi efisiensi tahunan senilai lebih dari 2,9 triliun dollar AS.
Melalui rilis laporan berkala tersebut, GoTo bersama Workplace Intelligence merekomendasikan korporasi untuk segera memperketat regulasi penggunaan AI. Perusahaan diharapkan memperbanyak program pelatihan terstruktur guna mengasah keterampilan baru agar pekerja mampu memanfaatkan teknologi ini secara efektif sekaligus bertanggung jawab.