Bangunan bersejarah Omah Balung di kompleks Makam Peneleh, Surabaya, terpantau mengalami kerusakan parah dengan kondisi tembok tanpa atap dan tertimbun material reruntuhan pada Jumat (10/4/2026). Situs ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah tidak teridentifikasi serta sisa pemindahan makam lama.
Struktur bangunan yang dahulu bergaya klasik Eropa dengan empat pilar megah kini hanya menyisakan satu pilar di sisi kiri. Dilansir dari Detik Travel, area peristirahatan jasad tanpa nama tersebut saat ini ditumbuhi tanaman rambat dan dipenuhi sampah di dalam lubang penyimpanannya.
Pemandu Makam Peneleh, Fahmi Lazuardi, menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan lokasi pengumpulan tulang milik jenazah Mr. X. Identitas jasad tersebut tidak diketahui atau berasal dari proses evakuasi pemakaman lama di wilayah Krembangan.
"Ini untuk tempat penyimpanan Mr. X atau yang nggak diketahui identitase sama beberapa pindahan dari Krembangan," jelas Fahmi, Jumat (10/4).
Fahmi menambahkan bahwa prosedur perbaikan makam di lokasi ini tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Mengingat status Makam Peneleh sebagai cagar budaya, setiap renovasi harus mendapatkan persetujuan keluarga dan menggunakan bahan yang identik dengan aslinya.
"Ini bolong karena usia, nggak boleh dipugar juga. Karena bentuknya harus sama kalau mau dibangun ulang," ucapnya.
Pengamat sejarah dari Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, memberikan perspektif lain mengenai sejarah penggunaan bangunan tersebut. Menurutnya, Omah Balung berkaitan erat dengan sistem sewa lahan pemakaman yang pernah diterapkan karena keterbatasan lahan pada abad ke-19.
"Jadi Peneleh pada tahun 1800-an itu sudah terbatas lahan makam, sehingga sempat menggunakan makam sewa. Jadi digunakan di lahan makam tidak permanen. Jika keluarga tidak melanjutkan sewa, jenazahnya dibongkar dan tulang-tulangnya dikumpulkan dijadikan satu di ruangan khusus, di omah balung itu," urai Kuncar.
Selain faktor usia, kerusakan pada beberapa titik makam juga dipicu oleh aksi kriminalitas yang terjadi di masa lalu. Pegiat sejarah, Hendra, mengungkapkan adanya praktik penjarahan barang berharga yang sempat marak di kompleks tersebut.
"Di bawah 2015 itu bebas orang masuk, dibuat tempat tidur para homeless. Jadi sejak 1970-an terjadi penjarahan karena ada harta yang dikubur. Nisan banyak yang diambil dan dihalusin lagi terus dijual," tutur Hendra.
Kompleks Makam Peneleh sendiri telah ditutup secara resmi sejak tahun 1940 dan mencatat sebanyak 14.355 nama di batu nisannya. Hingga saat ini, kawasan tersebut masih sering dikunjungi peziarah domestik maupun mancanegara karena terdapat makam tokoh-tokoh penting sejarah Surabaya.