Keraton Yogyakarta Sederhanakan Upacara Garebeg Besar Dal 1959 Demi Efisiensi Anggaran

Keraton Yogyakarta Sederhanakan Upacara Garebeg Besar Dal 1959 Demi Efisiensi Anggaran
Foto: Ilustrasi Keraton Yogyakarta Sederhanakan Upacara Garebeg Besar Dal 1959 Demi Efisiensi Anggaran.

Keraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara adat Garebeg Besar Dal 1959 pada Rabu (27/5) dengan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Prosesi kali ini dilangsungkan secara bersahaja serta dipusatkan hanya di lingkungan internal keraton.

Langkah penyederhanaan ini dilaksanakan guna menindaklanjuti perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai bentuk adaptasi terhadap langkah efisiensi anggaran yang sedang dijalankan oleh pemerintah pusat maupun daerah, seperti dilansir dari Media Indonesia.

Walaupun dilaksanakan tanpa keramaian di ruang publik, esensi dari tradisi turun-temurun ini dipastikan tetap terjaga. Pihak Keraton Yogyakarta mendistribusikan sebanyak 4.000 paket ubarampe pareden kepada para Abdi Dalem sebagai wujud sedekah dari Raja.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menerangkan bahwa seluruh rangkaian prosesi diawali dengan kegiatan doa bersama. Agenda ini dimulai tepat pukul 09.00 WIB, di mana ubarampe didoakan bersama oleh Kanca Kaji.

Proses pembagian ubarampe dipimpin langsung oleh GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, serta KPH Notonegoro. Penerima mandat merupakan perwakilan Abdi Dalem yang bertugas menyalurkannya ke tiap Kawedanan Hageng dan Kawedanan.

Kebijakan penyesuaian ini berimplikasi pada penghapusan sejumlah ritual yang biasanya menjadi tontonan dan daya tarik masyarakat luas. Beberapa prosesi yang dipastikan absen dalam gelaran Garebeg Besar periode ini meliputi Gladhi Resik Prajurit, Ritual Numplak Wajik, dan kirab luar ruangan yang biasanya melibatkan banyak personel.

KRT Kusumanegara menegaskan bahwa meskipun terdapat perubahan pada teknis pelaksanaan, esensi nilai sedekah Raja kepada rakyatnya tidak berkurang. Makna tersebut tetap direpresentasikan melalui pembagian ribuan ubarampe pareden.

Prinsip Penghematan dan Realisme Anggaran

Sri Sultan HB X memaparkan bahwa Keraton Yogyakarta memilih langkah realistis dalam mengelola pembiayaan upacara adat ini. Menurut Sultan, komponen pengeluaran terbesar dalam tradisi Garebeg selama ini bersumber dari kebutuhan logistik serta mobilisasi kirab di luar area keraton.

"Ya penghematan saja, semua kan penghematan. Kita juga menghemat lah prinsipnya kan gitu," ujar Sri Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Sultan mengutarakan bahwa pembatasan upacara adat ini tidak berjalan secara permanen. Pihak manajemen Keraton Yogyakarta akan terus meninjau perkembangan pemulihan ekonomi sebelum menentukan skema upacara adat di masa depan. Jika situasi finansial dinilai membaik, prosesi lengkap berpeluang untuk dihadirkan kembali.

Berikut adalah rincian data pelaksanaan upacara adat berdasarkan informasi resmi pihak keraton:

Detail Pelaksanaan Garebeg Besar Dal 1959 Keraton Yogyakarta
AspekDetail Pelaksanaan
Rabu, 27 Mei 20264.000 paket pareden
Internal Keraton YogyakartaPenghematan dan Realisme Anggaran

Artikel terkait

Rekomendasi