Stasiun Gundih di Grobogan mencatatkan pertumbuhan positif dalam jumlah layanan penumpang pada awal tahun 2026. Berdasarkan data operasional, stasiun ini mengalami peningkatan jumlah pelanggan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Dilansir dari Detik Travel, tercatat sebanyak 10.530 pelanggan berangkat dan 11.161 pelanggan tiba di stasiun ini sepanjang triwulan I 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,05% jika disandingkan dengan data pada periode yang sama tahun 2025.
Peningkatan ini menjadi indikator bahwa moda transportasi kereta api semakin diminati masyarakat untuk menunjang aktivitas harian. Stasiun Gundih sendiri memegang peranan vital sebagai titik temu jalur rel yang menghubungkan wilayah Semarang, Solo, hingga Surabaya.
Salah satu faktor pendukung mobilitas di wilayah ini adalah operasional KA Banyubiru. Kereta ini melayani rute Semarang Tawang menuju Solo Balapan dengan harga tiket yang dipatok sebesar Rp 40.000.
Dengan durasi perjalanan sekitar dua jam, layanan ini menjadi pilihan utama bagi warga lokal. Masyarakat dari Grobogan kini memiliki akses yang lebih terjangkau untuk kebutuhan bekerja, menempuh pendidikan, hingga berobat ke kota besar seperti Semarang atau Solo.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa pengembangan layanan dilakukan untuk memperluas daya jangkau transportasi publik bagi masyarakat luas.
"KA Banyubiru membantu masyarakat melakukan perjalanan jarak dekat dan menengah dengan lebih mudah. Hal ini membuat banyak daerah tetap terhubung dan aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan lancar," ujar Anne dikutip dari rilis KAI, Senin (27/4/2026).
Potensi Wisata dan Arsitektur Kolonial
Selain fungsi teknisnya sebagai simpul transportasi, Stasiun Gundih menawarkan daya tarik visual melalui arsitektur kolonial Belanda yang masih terawat. Bangunan utama stasiun didominasi material kayu jati dengan desain simetris yang mencolok.
Struktur dinding tebal serta pintu dan jendela besar dirancang untuk menyesuaikan iklim tropis Jawa. Karakteristik ini membuat stasiun sering dijadikan objek fotografi bagi para pelancong yang singgah atau sekadar melintas di kawasan tersebut.
Lokasinya yang dikelilingi hutan jati di wilayah Geyer memberikan nuansa perjalanan yang berbeda. Para penumpang juga dapat mengakses berbagai destinasi populer di sekitarnya, mulai dari Waduk Kedung Ombo hingga eksplorasi kuliner lokal.
"Kehadiran kereta api di Stasiun Gundih menunjukkan bahwa perjalanan memberi dampak luas bagi masyarakat. Akses terhadap pekerjaan semakin terbuka, peluang usaha berkembang, dan hubungan antarwilayah terasa dekat," kata Anne.