CEO Amazon Andy Jassy menerima kenaikan total kompensasi sebesar 30 persen menjadi USD 2,1 juta atau setara Rp 33,6 miliar pada tahun 2025, berdasarkan laporan proksi tahunan yang diterbitkan perusahaan pada Senin (13/4/2026).
Kenaikan pendapatan pimpinan tertinggi ini terjadi saat raksasa teknologi tersebut sedang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan ribu karyawannya sejak awal tahun ini. Dilansir dari Detik iNET, lonjakan kompensasi Jassy didorong oleh pembengkakan biaya keamanan dan perjalanan bisnis.
Rincian dokumen keuangan menunjukkan Jassy menerima gaji pokok sebesar USD 365.000 atau sekitar Rp 5,8 miliar. Namun, biaya pengamanan dan perjalanan dinasnya melonjak tajam mencapai USD 1,7 juta atau setara Rp 27,2 miliar sepanjang tahun lalu.
Selain gaji tunai, bos Amazon ini juga mencairkan penghargaan saham dengan nilai fantastis mencapai USD 43 juta atau sekitar Rp 688 miliar. Hingga akhir Desember 2025, ia tercatat masih memiliki simpanan saham terbatas senilai USD 242 juta yang belum dicairkan.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, Jassy menerima gaji pokok yang sama namun dengan biaya keamanan dan perjalanan yang lebih rendah, yakni sebesar USD 1,1 juta. Tren kompensasi tinggi ini sejatinya telah dimulai sejak tahun pertamanya menjabat pada 2021 dengan total nilai menembus USD 200 juta.
Kondisi kontras terlihat pada sisi tenaga kerja di mana Amazon telah memangkas sedikitnya 30.400 posisi sejak awal 2025. Jumlah tersebut mencakup sekitar 10 persen dari total tenaga kerja kantoran di berbagai divisi perusahaan tersebut.
Langkah efisiensi ini bahkan berdampak pada divisi robotika yang selama ini dikembangkan untuk mengoptimalkan operasional gudang. Amazon menyatakan bahwa pengurangan lapisan birokrasi dan implementasi kecerdasan buatan (AI) menjadi alasan utama perampingan bisnis tersebut.
Struktur penggajian Jassy mencerminkan standar industri teknologi di mana gaji pokok hanya menjadi komponen kecil dari total pendapatan. Sebagian besar kekayaan para petinggi perusahaan teknologi biasanya bersumber dari kepemilikan saham berjangka yang nilainya fluktuatif.