Kementerian Kebudayaan menetapkan 430 objek cagar budaya nasional baru di Indonesia pada tahun 2026 demi meningkatkan nilai perlindungan dan kemanfaatan ekonomi masyarakat. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Travel, penambahan tersebut membuat total objek cagar budaya nasional kini melonjak menjadi 743 situs dari jumlah sebelumnya yang hanya mencapai 313 objek.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghendaki agar ratusan objek yang telah mendapatkan status nasional tersebut tidak sekadar menjadi benda mati. Pemerintah berkomitmen mengoptimalkan seluruh situs itu agar memberikan dampak nyata melalui pengembangan wisata serta ekonomi berbasis budaya.
"Jadi dengan penetapan ini justru yang bisa terjadi adalah keuntungan kalau ini kita manfaatkan. Jadi jangan itu menjadi barang mati, tapi jadi harus hidup. Dimanfaatkan menjadi wisata budaya, misalnya menjadi wisata religi, menjadi ekonomi budaya, dan sebagainya," kata Fadli Zon, Selasa (19/5/2026).
Langkah revitalisasi kawasan wisata sejarah menjadi acuan utama pemerintah dalam mengelola ratusan cagar budaya baru ini. Kementerian Kebudayaan kini tengah berfokus melakukan penataan pada Candi Plaosan agar mampu mengikuti keberhasilan pengelolaan situs sejarah besar lainnya.
"Borobudur itu kan dulu berantakan. Setelah direvitalisasi, ditata kawasannya, dan akhirnya orang yang datang juga semakin meningkat. Borobudur tentu menjadi salah satu sumber penghasilan ekonomi budaya juga. Begitu juga Candi Perambanan. Bahkan di samping itu ada aktivitas-aktivitas lain, ada aktivitas olahraga, sport tourism, ada musik, ada macam-macam di situ," kata Fadli.
Peningkatan aspek fasilitas serta penyediaan suvenir khas menjadi target pembenahan selanjutnya agar para wisatawan asing maupun domestik lebih antusias berkunjung. Penataan yang lebih sistematis diharapkan mempermudah alur pelindungan, perawatan, konservasi, hingga proses pembinaan situs ke depan.
Kementerian Kebudayaan juga memastikan akan menjalin kolaborasi erat dengan kementerian sektor lain untuk menyukseskan program ini. Kerja sama tersebut menempatkan urusan kebudayaan sebagai penyedia sumber daya utama yang bermuara pada sektor pariwisata.
"Ya, pasti. Kan pariwisata itu di hilir. Jadi kita memperbaikinya sebenarnya juga untuk menuju kepada pariwisata. Kita yang menjadi source-nya," lanjut Fadli.
Sistem pengenalan cagar budaya juga akan diperkuat lewat pencanangan simbol khusus menyerupai logo sertifikasi tertentu sebagai penanda nilai tambah objek nusantara. Sektor narasi sejarah atau story telling dari setiap situs juga akan diperdalam guna mendongkrak nilai ekonominya di mata dunia.
"Kalau di luar negeri malah ada semacam tiket untuk masuk ke makam, contohnya ke makam Napoleon Bonaparte di dalam kompleks Les Invalides itu bisa bayar 20 euro, dan makam lainnya. Di Indonesia kan juga ada makam para wali, berapa banyak itu yang datang ke makam," katanya.