Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu MBG 2026, Modal Resmi di Bawah Rp5 M

Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu MBG 2026, Modal Resmi di Bawah Rp5 M
Foto: Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu MBG 2026, Modal Resmi di Bawah Rp5 M. (Illustration by Pexels)

Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam bisnis pengolahan susu skala kecil melalui program Dapur Susu Indonesia (DASI). Peluang usaha ini dirancang dengan kebutuhan modal yang relatif terjangkau, yakni berada di bawah angka Rp5 miliar.

Langkah ini diambil pemerintah untuk mendukung pasokan kebutuhan protein dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda nasional. Melalui inisiatif ini, sentra peternakan sapi perah diharapkan tidak lagi hanya bertumpu di Pulau Jawa, tetapi juga merambah ke berbagai wilayah lainnya di Indonesia.

Strategi Pengembangan Dapur Susu Indonesia

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan prototipe atau model awal untuk unit usaha DASI ini. Dengan investasi di bawah Rp5 miliar, satu unit dapur susu sudah mampu beroperasi secara mandiri dan efektif.

Satu unit pengolahan tersebut nantinya diproyeksikan dapat menyuplai kebutuhan susu untuk sekitar 5 hingga 10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitarnya. Hal ini disampaikan Makmun dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat.

Konsep DASI dirancang sedemikian rupa agar dapat dikelola oleh koperasi lokal maupun pelaku usaha daerah. Tujuan utamanya adalah mendekatkan lokasi produksi susu dengan titik distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) agar kualitas produk tetap terjaga.

Kebutuhan susu dalam program MBG dipandang sebagai sebuah peluang emas bagi kemajuan industri peternakan sapi perah nasional. Susu merupakan salah satu menu wajib yang harus diberikan kepada para penerima manfaat dengan frekuensi setidaknya dua kali seminggu.

Beberapa poin penting mengenai jaminan pasar bagi para pengusaha DASI:

  • Badan Gizi Nasional bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker) untuk menyerap produk susu dari peternak lokal.
  • Susu telah ditetapkan sebagai menu wajib dalam pedoman Surat Edaran program Makan Bergizi Gratis.
  • Adanya kewajiban konsumsi susu minimal dua kali dalam sepekan menciptakan permintaan pasar yang stabil dan berkelanjutan.
  • Kejelasan pasar ini memberikan rasa aman bagi pelaku usaha untuk menanamkan modalnya di sektor pengolahan susu.

Makmun menegaskan bahwa kepastian penyerapan hasil produksi merupakan kunci utama keberhasilan program ini. Dengan adanya jaminan dari pemerintah, peternak dan pengusaha lokal tidak perlu lagi merasa khawatir mengenai pemasaran produk mereka.

Tantangan dan Solusi Sektor Hilirisasi Susu

Saat ini, populasi sapi perah di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 540.657 ekor. Menariknya, lebih dari 90 persen dari total populasi tersebut dipelihara oleh peternak rakyat, sementara industri besar hanya memegang porsi kecil.

Meskipun jumlah ternak cukup banyak, sektor hilir atau industri pengolahan susu di daerah-daerah masih tergolong lemah. Hal ini sering kali menyebabkan ketidakpastian pasar bagi peternak saat mereka berhasil meningkatkan jumlah produksi susunya.

Makmun mengungkapkan bahwa selama ini terjadi kebuntuan komunikasi antara pihak industri dan para peternak lokal. Industri sering beralasan bahwa jumlah sapi belum mencukupi, sementara peternak ragu berproduksi karena belum melihat adanya jalur pemasaran yang jelas.

Salah satu contoh nyata terjadi di Sulawesi Selatan yang dulu sempat memiliki populasi sapi perah dalam jumlah besar. Namun, populasi tersebut menyusut karena minimnya perkembangan sektor pengolahan yang berakibat pada terbatasnya daya serap pasar lokal.

Potensi persebaran wilayah pengembangan sapi perah yang didorong oleh Kementan:

Wilayah Pengembangan Fokus Utama Program
Sumatra & Kalimantan Pembangunan sentra baru di luar Pulau Jawa.
Sulawesi & Bali Integrasi peternakan dengan unit pengolahan daerah.
Nusa Tenggara Pemanfaatan lahan untuk mendukung populasi ternak.
Indonesia Timur Penyediaan akses protein melalui program MBG lokal.

Tabel di atas menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam mendorong pemerataan ekonomi di sektor peternakan secara nasional. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis menjadi pendorong utama bagi pemerataan infrastruktur industri susu ini.

Implementasi Model Usaha Terintegrasi

Susu yang digunakan dalam program MBG tidak melulu harus berupa susu UHT yang diproduksi oleh pabrik besar. Produk susu pasteurisasi maupun susu sterilisasi hasil olahan skala kecil juga sangat layak untuk didistribusikan kepada masyarakat.

Koperasi memiliki peluang besar untuk membangun fasilitas pengolahan susu pasteurisasi dengan standar yang telah ditetapkan. Hal inilah yang mendasari konsep DASI sebagai jembatan antara produksi bahan mentah dengan kebutuhan konsumsi harian.

Dalam rencana yang disusun Kementan, setiap wilayah diharapkan memiliki populasi sapi perah antara 100 hingga 200 ekor. Unit peternakan ini harus terhubung secara langsung dengan fasilitas pengolahan susu agar proses produksi menjadi lebih efisien.

Produk yang dihasilkan dari unit tersebut kemudian akan disalurkan secara langsung ke dapur-dapur MBG atau unit SPPG terdekat. Skema rantai pasok pendek ini diyakini akan menjadi pasar yang sangat menguntungkan bagi para peternak lokal.

Semangat para peternak biasanya akan sangat tinggi jika mereka melihat ada hasil nyata dan keuntungan yang pasti. Pemerintah yakin bahwa integrasi antara pengembangan populasi dan kepastian pembeli (offtaker) akan memicu pertumbuhan investasi secara mandiri.

Saat ini, Kementan mulai menjalankan proyek percontohan untuk model terintegrasi ini di wilayah Sulawesi Selatan. Model ini mencakup seluruh tahapan bisnis, mulai dari pengelolaan peternakan sapi hingga ke tahap hilirisasi atau pengolahan produk siap konsumsi.

Keberhasilan di Sulawesi Selatan nantinya akan dijadikan acuan atau pemicu untuk melahirkan sentra-sentra sapi perah baru di seluruh penjuru negeri. Makmun percaya bahwa ketika sudah ada bukti kesuksesan, para peternak lain akan berbondong-bondong mengikuti jejak tersebut demi mencapai keberhasilan serupa.

Artikel terkait

Rekomendasi