Kemenkes Terbitkan Aturan Nutri Level untuk Label Gizi Pangan Siap Saji

Kemenkes Terbitkan Aturan Nutri Level untuk Label Gizi Pangan Siap Saji
Foto: Ilustrasi Kemenkes Terbitkan Aturan Nutri Level untuk Label Gizi Pangan Siap Saji.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menerbitkan regulasi Nutri Level untuk mengatur pencantuman label gizi pada produk pangan olahan siap saji mulai Selasa (14/4/2026). Kebijakan ini mengklasifikasikan produk ke dalam level A hingga D berdasarkan kadar gula, garam, dan lemak (GGL).

Sistem pelabelan ini merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK/01/07/MENKES/301/2026 yang menetapkan kriteria ketat untuk setiap kategori. Dilansir dari Detik Health, produk level A merupakan pilihan paling sehat dengan kandungan gula kurang dari 1 gram per 100 ml dan tanpa pemanis tambahan.

Kriteria Nutri Level Berdasarkan Kandungan per 100 ml
LevelGulaGaramLemak Jenuh
Level A< 1 gÔëñ 5 mgÔëñ 0,7 g
Level B1 - 5 g> 5 - 120 mg> 0,7 - 1,2 g
Level C> 5 - 10 g> 120 - 500 mg> 1,2 - 2,8 g
Level D> 10 g> 500 mg> 2,8 g

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa penentuan level pada kemasan akan menonjolkan huruf yang sesuai dengan persentase kandungan GGL tertinggi. Penetapan ini akan melalui masa transisi selama dua tahun sebelum akhirnya bersifat wajib bagi industri besar.

"Sasaran awal industri besar, belum sampai UMKM," konfirmasi Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan optimisme bahwa kebijakan ini lebih efektif dibandingkan penerapan cukai untuk menekan kasus penyakit tidak menular. Pemerintah mengutamakan pembentukan kesadaran publik melalui informasi yang transparan pada label kemasan.

"Satu hal yang kami pelajari, kalau kesehatan itu dipaksakan pemerintah dalam program, hasilnya itu tidak pernah lebih baik dibandingkan kalau kesehatan menjadi kesadaran pribadi dalam bentuk gerakan," sorot Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Menkes menambahkan bahwa label ini diharapkan menjadi tren gaya hidup baru dalam memilih konsumsi harian. Ia memberikan ilustrasi bahwa memilih produk dengan label hijau akan memberikan kesan lebih positif bagi konsumen di masa depan.

"Kalau kita minumnya warna merah nggak keren, kita harusnya minumnya yang hijau," tutur Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Budi Gunadi Sadikin juga membandingkan pergeseran budaya konsumsi kopi yang kini cenderung beralih ke varian tanpa pemanis tambahan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

"Kalau dulu minum kopi pakai gula, pakai susu kental manis, tapi kalau sekarang kopinya espresso sama americano lebih keren," lanjut Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Di sisi lain, Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengingatkan bahwa efektivitas Nutri Level sangat bergantung pada narasi edukasi. Ia menekankan perlunya peringatan yang lebih eksplisit untuk mencegah bias konsumen terhadap produk kategori rendah.

"Jadi tanpa narasi yang kuat, konsumen atau publik masyarakat dengan literasi rendah itu cenderung merasa bahwa mengonsumsi pangan level D sesekali tidak berdampak jangka panjang," sebut Dicky Budiman, Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia.

Dicky menyarankan agar pemerintah mewajibkan terminologi yang lebih tegas dan visualisasi peringatan yang dominan pada label produk kategori D, sebagaimana yang telah diterapkan di Singapura.

"Jadi perlu penajaman terminologi. Sebetulnya bisa mewajibkan pencantuman teks peringatan yang lebih tegas, lugas, jelas, tambahkan keterangan ekspilist tinggi gula, garam, lemak, batas konsumsi," sorot Dicky Budiman, Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia.

Penggunaan simbol visual tambahan dianggap penting untuk menunjukkan profil risiko kesehatan secara spesifik kepada masyarakat luas.

"Jadi misalnya kalau ada satu level jatuh ke produk D karena gula yang sangat tinggi, label itu harus menunjukkan profil tersebut secara spesifik, misalnya, visualisasi merah yang lebih dominan, atau simbol peringatan di samping huruf D," tutur Dicky Budiman, Pakar Epidemiologi Universitas Griffith Australia.

Artikel terkait

Rekomendasi