Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan penerapan label indikator kesehatan Nutri Level pada berbagai produk minuman manis siap saji mulai Rabu, 15 April 2026, sebagai langkah menekan konsumsi gula berlebih di masyarakat. Kebijakan ini mencakup klasifikasi kategori A hingga D yang akan disertai dengan kode warna mulai dari hijau tua hingga merah.
Dilansir dari Detik Health, pengklasifikasian ini akan membagi produk berdasarkan kandungan gulanya, di mana Level A merupakan tingkat dengan kadar gula terendah dan Level D memiliki kadar tertinggi. Pada masa transisi awal, prioritas pelabelan akan menyasar minuman populer seperti kopi susu gula aren, teh tarik, boba, serta aneka produk jus.
Penerapan kebijakan ini akan dimulai pada sektor usaha berskala besar untuk memberikan edukasi langsung kepada konsumen. Selain pada kemasan fisik, informasi Nutri Level juga diwajibkan muncul pada berbagai media informasi digital maupun cetak, termasuk daftar menu di aplikasi pesan-antar makanan, brosur, serta leaflet resmi.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk intervensi terhadap meningkatnya beban pembiayaan kesehatan akibat penyakit tidak menular. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan pada biaya penanganan penyakit kronis yang dipicu oleh pola konsumsi yang tidak sehat.
Beban pembiayaan untuk penanganan gagal ginjal di Indonesia dilaporkan melonjak drastis hingga lebih dari 400 persen. Angka tersebut tercatat mencapai Rp13,38 triliun pada tahun 2025, padahal pada tahun 2019 nilainya hanya sebesar Rp2,32 triliun.
"Karena itu, perlu dilakukan upaya melalui pemberian informasi dan edukasi agar masyarakat dapat lebih mudah memilih pangan siap saji yang tepat dan sehat sesuai kebutuhannya," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Sistem label ini secara visual akan memudahkan pemilih dengan rincian Level A berwarna hijau tua, Level B berwarna hijau muda, Level C berwarna kuning, dan Level D dengan warna merah mencolok. Pemerintah berharap skema ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap asupan gula, garam, dan lemak harian mereka.