Sebanyak 1,7 juta siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan pondok pesantren mendaftar Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk mengukur kualitas pendidikan Islam secara nasional pada Kamis (9/4/2026).
Jumlah pendaftar tersebut dihimpun oleh Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dari ribuan lembaga di seluruh Indonesia, sebagaimana dilansir dari Edukasi.
Data Ditjen Pendidikan Islam menunjukkan tingkat partisipasi tertinggi berada di jenjang MI dengan 659.567 siswa (99,01 persen) dari 25.628 lembaga yang telah mendaftar.
Pada jenjang MTs, pendaftar mencapai 1.005.408 siswa (96,71 persen) dari 18.899 lembaga, sedangkan dari lingkungan pesantren tercatat 45.163 santri (84,07 persen) dari 1.605 lembaga ikut berpartisipasi.
Mayoritas pelaksanaan TKA 2026 ini didominasi oleh moda daring dengan rincian jenjang MI sebesar 97,57 persen, MTs 94,13 persen, dan pesantren 97,13 persen.
Kemenag juga memverifikasi kesiapan infrastruktur dengan hasil 73,69 persen lembaga MI terverifikasi, 67,77 persen lembaga MTs terverifikasi, dan 40,31 persen lembaga pesantren terverifikasi.
Direktur KSKK Madrasah Kemenag, Nyayu Khodijah, memaparkan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan partisipasi ujian ini, khususnya pada lingkungan pesantren.
"Ini bukan sekadar asesmen. Kita sedang membangun sistem evaluasi berbasis data yang mampu membaca kualitas pendidikan secara utuh baik pada level sistem maupun capaian individu murid," kata Nyanyu, Direktur KSKK Madrasah Kemenag.
Pihak kementerian menekankan pentingnya aspek keadilan dan kredibilitas dalam pelaksanaan ujian bagi jutaan siswa madrasah tersebut.
"Kualitas pelaksanaan menjadi prioritas kami. Tidak hanya jumlah peserta, tetapi juga memastikan bahwa pelaksanaan berjalan kredibel, adil, dan mencerminkan kemampuan riil peserta didik," ujar Nyayu, Direktur KSKK Madrasah Kemenag.
Evaluasi ini ditargetkan mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap mutu lulusan serta skema pembelajaran di madrasah dan pesantren.
"Ini adalah pijakan menuju masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif, terukur, dan berdaya saing global," jelas Nyanyu, Direktur KSKK Madrasah Kemenag.