Tren perencanaan liburan keluarga kini mengalami pergeseran signifikan dengan meningkatnya pilihan bepergian di luar musim liburan sekolah. Keputusan ini diambil oleh banyak orang tua demi mendapatkan pengalaman perjalanan yang lebih praktis dan bermakna.
Dilansir dari Medcom, pemilihan waktu di luar musim ramai ini didasari oleh pertimbangan kenyamanan, kondisi cuaca, hingga efisiensi anggaran. Wisatawan kini lebih memprioritaskan kualitas pengalaman dibandingkan sekadar mengikuti jadwal libur konvensional.
Marci-Beth Maple, manajer senior tim penasihat Zicasso, menjelaskan bahwa destinasi akan terasa jauh lebih lengang saat dikunjungi di luar puncak musim liburan. Hal ini memungkinkan keluarga menikmati waktu berkualitas tanpa harus berdesakan dengan kerumunan turis lain.
Faktor perubahan iklim global turut memengaruhi keputusan waktu berlibur. Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara belakangan ini membuat liburan musim panas menjadi kurang ideal, terutama bagi anak-anak yang rentan mengalami kelelahan akibat suhu tinggi.
"Sebagai orang tua, kita semua tahu betapa menyebalkannya membawa anak-anak ke tempat-tempat panas, karena mereka jadi rewel dan tidak bahagia. Jika kamu bisa mengunjungi tempat-tempat itu pada waktu yang lebih nyaman, mengapa tidak?" ujar Maple.
Selain kenyamanan fisik, aspek finansial menjadi alasan kuat lainnya. Data dari Bloomberg menunjukkan kenaikan biaya perjalanan yang drastis, di mana rata-rata pengeluaran liburan musim semi pada 2025 menembus angka Rp143 juta, meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2019.
Maple menambahkan bahwa periode peralihan atau musim sepi memberikan peluang bagi keluarga untuk meningkatkan standar pelayanan. Dengan biaya yang lebih rendah, wisatawan bisa mendapatkan pengalaman yang lebih istimewa dibandingkan saat musim ramai.
Pertimbangan Momen Spesifik dan Risiko Sekolah
Meski cenderung memilih waktu sepi, ada kalanya keluarga tetap menyesuaikan jadwal demi menyaksikan momen langka. Maple mencontohkan pengalamannya membawa sang buah hati ke Barcelona untuk melihat langsung penampilan Lionel Messi di lapangan hijau.
Keputusan untuk berlibur saat periode sekolah tetap memerlukan analisis mendalam mengenai dampak edukasi bagi anak. Robin Berman, profesor asisten psikiatri di David Geffen School of Medicine, menekankan pentingnya menimbang manfaat pengalaman terhadap potensi risiko akademik yang mungkin muncul.
"Musim peralihan dan musim sepi, memang menawarkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas atau mendapatkan pengalaman, yang sedikit lebih istimewa dengan biaya yang sedikit lebih rendah," kata Maple.Manfaat yang didapat dari fleksibilitas waktu ini diharapkan mampu memberikan keseimbangan antara kebutuhan rekreasi keluarga dan efektivitas biaya perjalanan yang terus meningkat di masa mendatang.