KELA Ungkap 2,86 Miliar Kredensial Bocor Akibat Serangan Infostealer

KELA Ungkap 2,86 Miliar Kredensial Bocor Akibat Serangan Infostealer
Foto: Ilustrasi KELA Ungkap 2,86 Miliar Kredensial Bocor Akibat Serangan Infostealer.

Ancaman pencurian identitas digital berupa username dan password tetap menjadi tantangan serius dalam lanskap keamanan siber global pada tahun 2026. Berdasarkan laporan State of Cybercrime 2026 yang dirilis oleh KELA, terdapat miliaran data sensitif yang berhasil dikumpulkan oleh aktor intelektual kejahatan siber melalui berbagai teknik peretasan.

Dilansir dari Detik iNET, KELA menemukan sedikitnya 2,86 miliar kredensial yang diperoleh melalui aktivitas ilegal. Data tersebut mencakup kata sandi hingga cookie sesi yang memiliki kemampuan fatal untuk melewati sistem otentikasi dua faktor atau 2FA.

Sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025, pemantauan KELA menunjukkan sekitar 3,9 juta perangkat unik di seluruh dunia telah terinfeksi malware infostealer. Infeksi massal ini mengakibatkan kebocoran total sebanyak 374,5 juta kredensial yang tersimpan di dalam perangkat-perangkat tersebut.

Secara kumulatif, KELA melacak 2,86 miliar kredensial yang dicuri dari berbagai sumber, termasuk log malware infostealer yang diperjualbelikan di pasar gelap atau marketplace penjahat siber. Infostealer sendiri merupakan perangkat lunak berbahaya yang dirancang khusus untuk menyedot data sensitif dari sistem yang telah disusupi.

Data analisis terbaru menunjukkan bahwa malware infostealer kini tidak lagi hanya mendominasi sistem operasi Windows. Perangkat macOS kini menjadi sasaran empuk para peretas dengan pertumbuhan kasus yang sangat signifikan dalam setahun terakhir.

Dikutip dari Forbes pada Minggu (3/5/2026), tingkat infeksi pada perangkat macOS melonjak tajam dari sebelumnya kurang dari 1.000 kasus pada tahun 2024 menjadi lebih dari 70.000 kasus pada tahun 2025. Pergeseran tren ini menunjukkan bahwa pengguna ekosistem Apple kini harus meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap serangan malware.

Metode Penyusupan Infostealer yang Paling Dominan

Laporan KELA merinci beberapa teknik utama yang digunakan oleh malware infostealer untuk menembus pertahanan perangkat dan akun korban, di antaranya:

  • Pemanfaatan email, aplikasi pesan instan, dan penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dipersonalisasi untuk menembus MFA melalui layanan phishing-as-a-service.
  • Serangan manipulasi psikologis yang membuat pengguna menjalankan skrip berbahaya secara manual, sebuah metode yang dikenal sebagai serangan 'retas password Anda sendiri'.
  • Penyebaran iklan palsu dan hasil mesin pencarian berbahaya yang mempromosikan perangkat lunak yang telah disisipi trojan.
  • Serangan rantai pasokan melalui paket yang diracuni dan peniruan identitas DevOps untuk mencuri kredensial dengan hak akses tinggi.
  • Eksploitasi melalui pembaruan ekstensi browser yang telah disusupi untuk mencuri data formulir dan cookie pengguna.
  • Distribusi aplikasi bajakan dan notifikasi pembaruan perangkat lunak palsu yang mengandung kode berbahaya.

Langkah pencegahan sangat krusial untuk melindungi akun dari ancaman infostealer. Pengguna disarankan untuk memastikan seluruh sistem operasi dan perangkat lunak selalu diperbarui ke versi terbaru guna menutup celah keamanan.

Selain itu, penggunaan saluran komunikasi resmi dan pengaktifan 2FA di setiap akun sangat direkomendasikan untuk memberikan lapisan perlindungan tambahan. Penggunaan password manager juga menjadi solusi efektif untuk mengelola kata sandi yang unik bagi setiap akun yang berbeda.

Artikel terkait

Rekomendasi