Aksi Kekerasan Terhadap CEO OpenAI Picu Gelombang Resistensi AI Global

Aksi Kekerasan Terhadap CEO OpenAI Picu Gelombang Resistensi AI Global
Foto: Ilustrasi Aksi Kekerasan Terhadap CEO OpenAI Picu Gelombang Resistensi AI Global.

Seorang pria berusia 20 tahun ditangkap setelah melempar bom molotov ke kediaman CEO OpenAI Sam Altman di San Francisco dan mencoba menerobos markas besar perusahaan pada 10 April 2026. Aksi Daniel Moreno-Gama asal Texas ini memicu kekhawatiran atas meningkatnya ancaman fisik terhadap pemimpin industri kecerdasan buatan.

Dilansir dari Detik iNET, pelaku membawa manifesto berjudul Your Last Warning yang berisi daftar target eksekutif dan investor teknologi. Serangan terus berlanjut dua hari kemudian ketika sebuah peluru ditembakkan ke rumah Altman lainnya di kawasan Russian Hill oleh orang tak dikenal.

Menanggapi sentimen negatif yang meningkat terhadap pengembangan teknologi perusahaannya, pemimpin OpenAI sempat memberikan pernyataan tertulis melalui sebuah dokumen publik.

"Ketakutan dan kecemasan terhadap AI memang dibenarkan." tulis Sam Altman, CEO OpenAI.

Setelah serangan tersebut terjadi, Altman memberikan respons tambahan yang menyoroti dampak ekonomi dari perubahan teknologi yang sedang berlangsung secara global.

"Ketakutan dan kecemasan terhadap AI memang dibenarkan." tulis Sam Altman, CEO OpenAI.

Gelombang perlawanan terhadap pusat data dan perusahaan AI juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Amerika Serikat dan Eropa. Di Indianapolis, rumah seorang anggota dewan kota ditembaki sebanyak 13 kali setelah menyetujui pembangunan fasilitas pusat data di wilayahnya.

Di Inggris, ratusan pengunjuk rasa melakukan aksi di depan kantor Google DeepMind dan Meta di London pada 28 Februari 2026. Para demonstran menuntut penghentian pengembangan model AI yang dianggap mengancam privasi dan demokrasi.

"Pull the plug!" teriak para demonstran.

Krisis serupa melanda Korea Selatan dan India terkait penyalahgunaan teknologi untuk konten ilegal dan perlindungan hak cipta. Presiden Korea Selatan Yoon bahkan menetapkan keadaan darurat nasional akibat maraknya penyebaran konten deepfake yang melibatkan pelajar dan tenaga pendidik.

Peta Motif Gerakan Anti-AI di Berbagai Wilayah Dunia
WilayahBentuk PerlawananMotif Utama
Amerika SerikatKekerasan individu, protes kota kecilKetakutan eksistensial, kehilangan pekerjaan, beban data center
Inggris dan JermanAksi massa damai, kampanye sipilDemokrasi digital, hak warga, krisis iklim
Uni EropaLobi sipil, AI ActHak asasi, perlindungan konsumen, kedaulatan regulasi
TiongkokRegulasi keras dari atasStabilitas sosial, kontrol konten, kohesi keluarga
JepangDiplomasi pemerintah, industri kreatifHak cipta, identitas budaya, integritas anime dan manga
Korea SelatanKriminalisasi cepatPerlindungan perempuan dan anak dari kekerasan digital
IndiaLitigasi selebriti, aturan takedownHak personalitas, deepfake politik, harga diri
Brasil dan Amerika LatinRegulasi pemilu, larangan deepfake politikIntegritas demokrasi, polarisasi politik
Australia dan Selandia BaruKerangka adatKedaulatan data Indigenous, perlindungan budaya
Afrika (Kenya)Organisasi buruh AIHak buruh, penghapusan eksploitasi rantai pasok AI

Data ekonomi tahun 2025 menunjukkan bahwa penggunaan AI telah dikaitkan dengan lebih dari 55 ribu kasus pemutusan hubungan kerja di Amerika Serikat. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dua belas kali lipat dibandingkan catatan pada dua tahun sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi