Polisi Ungkap Temuan Kekerasan Anak di Daycare Little Aresya Jogja

Polisi Ungkap Temuan Kekerasan Anak di Daycare Little Aresya Jogja
Foto: Ilustrasi Polisi Ungkap Temuan Kekerasan Anak di Daycare Little Aresya Jogja.

Pihak Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta menyelidiki dugaan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak di tempat penitipan anak Little Aresya, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja. Sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Senin (27/4/2026), petugas menemukan bukti perlakuan tidak manusiawi terhadap para korban yang dititipkan di lokasi tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian memberikan keterangan mengenai temuan personel di lapangan saat memeriksa kondisi daycare. Polisi melihat langsung bahwa anak-anak di tempat tersebut mengalami pengekangan fisik secara tidak wajar.

"Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan," katanya Kompol Riski Adrian, Kasat Reskrim Polresta Jogja.

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari tenaga ahli medis karena potensi kerusakan mental jangka panjang bagi para korban. Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai bahwa insiden di lembaga pengasuhan tersebut dapat memicu trauma psikologis yang sangat mendalam.

Pakar kesehatan jiwa tersebut menekankan bahwa dampak yang timbul dipengaruhi oleh intensitas kekerasan serta usia anak. Walaupun anak kecil sering kali belum memiliki kemampuan verbal untuk melaporkan kejadian yang dialaminya, trauma tetap dapat dideteksi melalui manifestasi psikis tertentu.

"Trauma sering tidak muncul dalam bentuk 'cerita' yang bisa disampaikan dengan bahasa verbal yang jelas dan baik, tetapi melalui perubahan perilaku," ujarnya dr Lahargo Kembaren, SpKJ, Psikiater.

Terdapat sejumlah gejala perilaku yang perlu dicermati oleh orang tua, mulai dari perubahan emosi yang menjadi lebih agresif atau menarik diri, gangguan pola tidur, hingga ketakutan pada tempat tertentu. dr Lahargo juga menyoroti adanya risiko regresi perkembangan seperti kembali mengompol atau kesulitan bicara.

"Jika berat, anak dapat mengalami trauma psikologis yang menetap, termasuk gejala mirip PTSD pada anak," kata dr Lahargo Kembaren, SpKJ, Psikiater.

Ia menambahkan bahwa perilaku anak merupakan bentuk komunikasi atas rasa sakit yang tidak bisa mereka ungkapkan secara langsung. Penurunan rasa aman dasar menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan mental anak di masa depan.

"Anak mungkin belum mampu menjelaskan lukanya dengan kata-kata, tetapi perilakunya selalu bercerita. Bukan semua anak bisa berkata 'aku terluka', kadang mereka hanya menjadi lebih diam, lebih marah, atau lebih takut," tuturnya dr Lahargo Kembaren, SpKJ, Psikiater.

Artikel terkait

Rekomendasi