Industri drama pendek format vertikal alias dracin di China kini memasuki babak baru dengan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Dikutip dari Tekno, seluruh tahapan produksi mulai dari penulisan naskah, pembuatan visual adegan, hingga aransemen musik latar kini mulai beralih menggunakan tools digital.
Format microdrama dengan durasi sekitar 30 detik per episode ini menjadi ruang eksperimen yang ideal bagi penerapan teknologi kecerdasan buatan. Layar ponsel yang ringkas membuat penonton cenderung memaklumi jika terdapat detail visual AI yang kurang sempurna.
Langkah adopsi teknologi ini didorong oleh efisiensi waktu kerja yang signifikan bagi para kreator film. Berbagai proses pascaproduksi yang biasanya memakan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan biaya yang jauh lebih murah.
Sebagai contoh, pemanfaatan empat model AI yang berbeda sekaligus mampu menghasilkan serial fantasi viral bertajuk Strange Mirror of Mountains and Seas. Pembuat konten menggunakan ChatGPT untuk menyusun skenario, Midjourney AI untuk visual statis, Kling AI untuk mengolah gambar menjadi video, dan Suno AI untuk mengonstruksi lagu tema.
Kondisi serupa terjadi pada Huace Group di Hangzhou yang melatih model bahasa besar (LLM) mandiri berbasis aset internal selama 30 tahun. Sistem kecerdasan buatan tersebut mampu merampungkan evaluasi awal naskah novel setebal 1,2 juta kata hanya dalam waktu 1 hingga 2 jam, memangkas durasi kerja konvensional yang biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 14 hari.
Kekhawatiran Hak Cipta dan Peran Inti Manusia
Meski membawa efisiensi tinggi, masifnya penggunaan kecerdasan buatan ini memicu kekhawatiran terkait perlindungan hak cipta data pelatihan serta potensi hilangnya lapangan kerja bagi aktor dan penulis. Namun, perkembangan ini juga memicu lahirnya profesi baru seperti prompt engineer yang bertugas menyusun instruksi kreatif untuk mesin.
Para pelaku industri sinema menegaskan bahwa kehadiran teknologi modern ini tidak akan menyingkirkan peran manusia secara keseluruhan dalam jangka pendek. Penulis skenario tetap memegang kendali penuh atas bahasa visual, penyuntingan akhir, serta penentuan kualitas adegan demi menjaga pemahaman sinematik yang utuh.