Kecerdasan Buatan Ambil Alih Industri Drama Pendek China

Kecerdasan Buatan Ambil Alih Industri Drama Pendek China
Foto: Ilustrasi Kecerdasan Buatan Ambil Alih Industri Drama Pendek China.

Industri hiburan drama pendek China atau dracin kini memasuki era baru yang sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Proses produksi tayangan ini tidak lagi melibatkan aktor, operator kamera, sutradara, maupun spesialis efek visual konvensional, seperti dilansir dari Tekno.

Sinetron mikro yang dirancang khusus untuk layar smartphone ini memiliki durasi sangat singkat, yaitu rata-rata satu hingga dua menit per episode. Format tersebut memungkinkan penonton menyelesaikan satu musim tayangan hanya dalam waktu 30 menit hingga satu jam.

Alur cerita yang memancing adrenalin dan penuh plot twist membuat penonton terus melakukan scrolling. Tren ini semakin berkembang berkat bombardir iklan di platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang sukses menarik minat pelanggan.

Nilai pasar dracin dilaporkan mencapai 6,9 miliar dollar AS pada 2024 dan berhasil melampaui pendapatan film layar lebar tahunan negara tersebut untuk pertama kalinya. Perusahaan pembuat drama pendek China juga telah berekspansi ke luar negeri sejak 2022 dengan Amerika Serikat sebagai pasar asing terbesar.

Amerika Serikat menyumbang sekitar 50 persen dari total pendapatan global menurut firma riset DataEye. Sementara itu, Omdia memperkirakan pasar mikrodrama global akan mencapai nilai 14 2miliar dollar AS pada tahun ini.

Perusahaan-perusahaan asal China kini memanfaatkan teknologi AI generatif untuk menemukan cara yang jauh lebih efisien dalam mendulang pundi-pundi uang. Rata-rata ada sekitar 470 judul drama pendek yang sepenuhnya dibuat dengan AI dirilis setiap harinya pada Januari 2026 berdasarkan data dari TecnologiReview.

Platform drama seperti FlexTV bahkan dilaporkan telah menghentikan seluruh proses syuting konvensionalnya. Mereka kini beralih seratus persen ke pembuatan drama berbasis AI.

"Semua orang mengharapkan pengembalian (modal) yang cepat. Di China, jika sebuah serial tidak balik modal dalam waktu satu bulan, industri akan menganggapnya sebagai sebuah kegagalan," ucap Tang Tang, Wakil Presiden platform FlexTV.

Sebelum era AI, sebuah proyek drama membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan mulai dari konseptualisasi, penulisan naskah, perekrutan aktor, syuting, hingga editing. Biaya produksi di pasar Amerika Utara bahkan bisa menyentuh angka 200.000 dollar AS.

Kini teknologi AI mampu memangkas proses tersebut menjadi kurang dari sebulan. Kehadiran teknologi ini juga merampingkan biaya produksi hingga mencapai 80 hingga 90 persen.

Bos Kunlun Tech, Han "Daniel" Fang, mengatakan tren serial drama pendek yang dibuat oleh AI ini merupakan bentuk adaptasi. Hal ini terjadi karena rentang perhatian atau attention span manusia kini juga semakin pendek.

Dampak Terhadap Kru Produksi dan Penulis Naskah

Transisi teknologi ini secara langsung telah membabat habis lapangan pekerjaan bagi kru produksi tradisional. Perusahaan kini tidak lagi membutuhkan jasa kru kamera, teknisi tata cahaya, atau penata rias.

Tim produksi raksasa kini disusutkan menjadi kelompok kecil yang hanya berisi produser, penulis naskah, sutradara AI, dan profesi baru bernama Kurator Aset AI. Tugas Kurator Aset AI adalah menerjemahkan naskah cerita menjadi sebuah perintah teks atau prompt ke dalam sistem.

Langkah tersebut menghasilkan gambar referensi karakter, kostum, dan adegan yang harus diikuti oleh model video AI. Para kurator ini biasanya mengandalkan generator populer, seperti Nano Banana milik Google, Seedance buatan ByteDance, atau Kling besutan Kuaishou.

Nasib yang tidak kalah miris dialami oleh para penulis naskah. Phoenix Zhu, seorang penulis lepas, mengaku bahwa beban kerjanya kini berubah drastis dan bayarannya mulai anjlok semenjak kemunculan AI.

Tenggat waktu pengerjaan naskah dipangkas dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa minggu. Zhu dan rekan-rekannya kini dituntut menulis naskah yang ditujukan agar bisa dibaca dan dimengerti oleh mesin AI.

Tugas merangkai visual adegan yang tadinya menjadi tanggung jawab sinematografer atau tim CGI kini ikut dibebankan kepada penulis. Penulis harus mendeskripsikan tindakan secara mendetail agar sistem kecerdasan buatan dapat menerjemahkannya menjadi visual yang tepat.

"Sebelum ada AI, menulis 'Ia menatapnya dengan dingin' saja sudah cukup. Tapi sekarang, saya mungkin harus mendeskripsikannya dengan tulisan, 'Sinar cahaya dingin memancar keluar dari matanya' (agar bisa diterjemahkan oleh AI)," kata Phoenix Zhu.

Meskipun industri ini kerap dicibir karena mengandalkan alur cerita yang seragam demi mempertahankan efek kejutan bagi penonton, mantan mitra Legend Capital Shangguan Hong memaklumi kondisi ini.

"Tidak ada orang yang datang menonton drama pendek untuk mengharapkan sebuah karya seni tingkat tinggi. (Sejak awal), industri drama pendek memang digerakkan oleh data secara real-time. AI hanya mempertegas logika tersebut. Dalam arti tertentu, drama pendek memang sangat cocok dipasangkan dengan AI," kata Shangguan Hong.

Artikel terkait

Rekomendasi