Integrasi kecerdasan buatan (AI) yang berjalan sangat cepat di kawasan Asia Pasifik (APAC) memicu risiko keamanan siber yang besar. Sistem keamanan Application Programming Interface (API) di wilayah ini dinilai masih sangat tertinggal sehingga menjadi celah yang mudah dimanfaatkan oleh peretas.
Fakta tersebut terungkap dalam riset bertajuk API Security Impact Study yang dirilis oleh Akamai Technologies, seperti dilansir dari Detik iNET. Laporan itu menyatakan bahwa 81% perusahaan di Asia Pasifik mengaku telah menjadi korban insiden keamanan API dalam 12 bulan terakhir.
Serangan siber ini tidak hanya merusak sistem, melainkan juga memicu lonjakan dampak finansial yang drastis. Rata-rata kerugian per insiden kini menembus angka lebih dari USD 1 juta atau sekitar Rp 15,9 miliar, melesat tajam dari rata-rata tahun lalu sebesar USD 580.000.
Survei yang melibatkan 640 pengambil keputusan keamanan siber di Tiongkok, India, Jepang, dan Singapura ini memperlihatkan perubahan pola serangan akibat kehadiran AI. Sebanyak 43% responden menyatakan serangan terhadap API yang terhubung langsung dengan teknologi AI menjadi jenis insiden yang paling sering terjadi.
Akamai membagikan beberapa temuan kunci mengenai situasi keamanan digital di wilayah Asia Pasifik. India dan Singapura tercatat sebagai negara dengan tingkat insiden keamanan API tertinggi, dengan persentase kebobolan masing-masing mencapai 93% dan 90% perusahaan dalam setahun terakhir.
Sementara itu, Jepang mencatat rata-rata kerugian finansial paling besar dengan angka mencapai USD 1,59 juta per insiden. Singapura menyusul di posisi kedua dengan kerugian senilai USD 1,33 juta per insiden.
Di sisi lain, integrasi pengujian keamanan ke dalam siklus pengembangan perangkat lunak secara penuh baru dilakukan oleh 19% perusahaan. Padahal, sebanyak 72% perusahaan mengaku sudah mulai memberikan perhatian lebih pada keamanan API.
Banyak Perusahaan Kehilangan Kendali Visibilitas API
Hilangnya kendali visibilitas menjadi masalah utama yang dihadapi perusahaan saat ini. Banyak korporasi abai terhadap pencatatan jalur API karena terlalu fokus berlomba meluncurkan layanan berbasis AI demi tuntutan bisnis.
Hanya ada 22% responden yang mengaku memiliki daftar inventaris API secara lengkap. Mereka memetakan dengan pasti API mana saja yang berinteraksi langsung dengan data sensitif perusahaan.
"Perusahaan di APAC bergerak cepat untuk memperluas penggunaan AI, tetapi fondasi keamanan yang menopang pertumbuhan tersebut masih rapuh," ujar Reuben Koh, Director of Security Technology & Strategy Akamai Technologies wilayah Asia-Pasifik & Jepang, dalam keterangan yang diterima detikINET.
Reuben Koh menambahkan bahwa penambahan API yang mendukung aplikasi AI tanpa pengawasan akan menjadi titik buntu. Dampaknya dapat memicu gangguan layanan berskala besar, biaya pemulihan masif, hingga runtuhnya kepercayaan konsumen.
Kesenjangan Komunikasi Pimpinan dan Tim Teknis
Riset ini juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang signifikan antara pimpinan perusahaan dan tim teknis di lapangan. Sebanyak 56% pimpinan di level C-suite merasa sangat percaya diri dalam menghadapi ancaman serangan API ini.
Sebaliknya, keyakinan serupa hanya dimiliki oleh 44% tim penanggung jawab keamanan aplikasi (AppSec). Optimisme berlebih di tingkat pimpinan ini dinilai berbahaya karena tidak mencerminkan kondisi operasional yang sebenarnya di lapangan.
Sebagai langkah mitigasi, Akamai merekomendasikan perusahaan untuk segera memperketat tata kelola dan melakukan inventarisasi total terhadap seluruh API yang digunakan. Aspek keamanan wajib dijadikan prasyarat mutlak sebelum meluncurkan sistem AI ke publik.