Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Dinkes Jakarta Selatan, drg Evelyne Hotma Fransisca, melaporkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai lebih dari 8.600 pasien di wilayahnya pada Rabu (15/4/2026). Peningkatan ini terjadi seiring masuknya musim pancaroba yang memicu perubahan cuaca ekstrem.
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menunjukkan akumulasi kasus ISPA di tingkat provinsi menyentuh angka 2,5 juta selama periode Januari hingga November 2025. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh peralihan musim kemarau dan hujan.
Drg Evelyne Hotma Fransisca menjelaskan bahwa kelompok rentan menjadi sasaran utama penyebaran penyakit pernapasan ini di Jakarta Selatan. Kondisi fisik yang tidak prima di tengah perubahan cuaca menjadi faktor penentu penyebaran virus.
"Di Jakarta Selatan, di tahun 2025 itu kasusnya ribuan. Ada 8.600 lebih kasus ISPA yang sebagian besar menyerang anak-anak, lansia," kata drg Evelyne, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Dinkes Jakarta Selatan.
Pihak otoritas kesehatan menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra bagi kelompok masyarakat yang memiliki tingkat aktivitas rendah namun memiliki kerentanan biologis. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan tubuh dalam menangkal infeksi.
"Kenapa? Karena imunitasnya yang lebih rendah daripada kita yang aktif," sambung drg Evelyne, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Dinkes Jakarta Selatan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Pancoran, Sri Lenita, mengonfirmasi tren serupa di tingkat fasilitas kesehatan primer. Sepanjang Februari 2026, tercatat lebih dari 1.000 pasien mendatangi Puskesmas dengan keluhan batuk, meski tidak seluruhnya terdiagnosis sebagai ISPA setelah pemeriksaan lebih lanjut.
Selain ancaman infeksi saluran pernapasan, Sri mengingatkan masyarakat mengenai potensi kemunculan penyakit lain yang sering mewabah saat terjadi perubahan suhu dan kebersihan lingkungan yang menurun.
"Misalnya penyakit demam berdarah. Kalau ISPA karena perubahan cuaca, debu, itu bersinggung dengan terjadinya penyakit-penyakit tersebut," kata Sri Lenita, Kepala Puskesmas Pancoran.
Sebagai langkah mitigasi, pihak Puskesmas terus menggalakkan edukasi protokol kesehatan dasar untuk memutus rantai penularan di lingkungan padat penduduk.
"Kita edukasi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat," tutup Sri Lenita, Kepala Puskesmas Pancoran.