Keterbatasan akses pendidikan di wilayah pinggiran Kota Serang memicu lahirnya gerakan literasi unik di Kampung Pekijing, Provinsi Banten. Gerakan ini menerapkan konsep literasi jemput bola dengan menaruh rak-rak buku langsung di teras setiap rumah warga.
Pustakawan Kampung Pekijing, Bayu Ibrahim, menjelaskan bahwa gerakan tersebut berawal dari keresahan terhadap sulitnya akses pendidikan di wilayahnya. Anak-anak di Pekijing harus menempuh jarak sekitar 4 kilometer tanpa adanya transportasi umum untuk mencapai sekolah tingkat dasar terdekat.
"Sekolah SD paling dekat itu sekitar 4 kilometer dan tidak ada transportasi. Paling yang punya motor bisa antar, kalau yang tidak punya, ya jalan. Jadi susah sekali," ujar Bayu saat diwawancarai Media Indonesia.
Kondisi ini semakin menantang saat pandemi COVID-19 melanda pada tahun 2021. Bayu bersama rekan-rekannya kemudian berinisiatif membangun taman bacaan yang kini berkembang menjadi Kampung Literasi Pekijing agar masyarakat tetap bisa mengakses bacaan.
Melalui kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Serang, program utama Rak Buku Keluarga berhasil dijalankan. Setiap rumah di Pekijing kini memiliki rak buku di bagian depan dengan koleksi yang disesuaikan berdasarkan profil penghuni.
"Di setiap rumah terdapat rak buku di depannya. Isinya minimal empat buku yang disesuaikan dengan profil masyarakatnya. Misalkan masyarakatnya petani, kita sediakan buku-buku untuk petani. Kalau misalkan masyarakatnya suka otomotif, kita sediakan buku-buku otomotif," jelas Bayu.
Buku-buku tersebut dirotasi atau ditukar setiap satu bulan sekali agar warga mendapatkan bahan bacaan baru secara rutin. Bayu menyebutkan bahwa 60% koleksi buku berasal dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Serang, sedangkan 40% sisanya merupakan swadaya komunitas, pengunjung, hingga masyarakat umum.
Gerakan ini sempat menghadapi penolakan dari masyarakat pada awal pencanangannya. Rata-rata pendidikan warga yang hanya sampai tingkat SD dan SMP membuat buku belum dianggap sebagai kebutuhan utama.
"Jujur saja, awal-awal rak buku yang ditaruh di setiap rumah itu ditolak. Masyarakat billing, 'Buat apa ditaruh di situ? Enggak bakal kita baca'. Akhirnya kami jawab, 'Ya sudah tidak usah dibaca, buat pajangan saja'. Kami pakai kata-kata itu," kata Bayu.
Siasat tersebut membuahkan hasil karena warga perlahan mulai penasaran setelah koleksi buku rutin diganti. Lama-kelamaan, masyarakat mulai aktif bertanya dan meminta judul buku tertentu hingga minat baca tumbuh secara perlahan.
Keberadaan Kampung Literasi Pekijing kini berdampak positif pada capaian akademik anak-anak setempat yang berhasil masuk peringkat lima besar di sekolah. Selain itu, perilaku sosial warga menjadi lebih terbuka, ramah menyapa tamu, dan lebih selektif dalam menerima informasi.
"Dulu masyarakat sangat tertutup, apalagi masyarakat kampung masih percaya hal-hal mistis. Setelah ada literasi, masyarakat semakin terbuka. Mereka bisa memilah mana informasi baik dan mana yang buruk," tambah Bayu.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah Lapak Baca Lansia yang diadakan setiap dua bulan sekali untuk menyasar warga usia lanjut. Program ini memicu interaksi lintas generasi karena para cucu ikut membacakan buku untuk kakek atau nenek mereka yang mengalami kendala penglihatan.
"Alasannya karena lansia di Pekijing ini kalau sendirian sering bengong, mereka butuh diajak ngobrol. Karena penglihatan mereka sudah mulai buram, sekarang cucu-cucunya yang membacakan dongeng ke orang tua. Mereka jadi bisa merasakan literasi juga," pasar Bayu.
Kampung Literasi Pekijing juga menjalankan program Inklusi Sosial untuk melatih keterampilan warga dari bahan bacaan, serta Camping Literasi. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan dukungannya saat berkunjung ke Pekijing.
ÔÇ£Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,ÔÇØ tutur Hafidz.
Hafidz menilai model di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca yang dekat, terbuka, dan ramah bagi lingkungan sekitar.
ÔÇ£Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,ÔÇØ katanya.