KAI Resmi Tambah Armada KRL Rangkasbitung 2026, Solusi Terbaru Bebas Antre

KAI Resmi Tambah Armada KRL Rangkasbitung 2026, Solusi Terbaru Bebas Antre
Foto: KAI Resmi Tambah Armada KRL Rangkasbitung 2026, Solusi Terbaru Bebas Antre. (Illustration by Pexels)

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyampaikan rencana strategis untuk menambah jumlah gerbong kereta pada rute KRL lintas Rangkasbitung. Langkah ini diambil sebagai solusi untuk mengatasi masalah kepadatan penumpang yang kerap terjadi di jalur tersebut.

Selain menambah panjang rangkaian kereta, pihak KAI juga berencana melakukan pembaruan pada sistem persinyalan. Hal ini bertujuan untuk memperpendek jarak waktu tunggu atau headway antarperjalanan kereta di lintasan tersebut.

Kepadatan di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung memang tergolong sangat tinggi, bahkan pada waktu sibuk okupansinya bisa menembus angka 160 persen dari kapasitas normal. Oleh karena itu, penambahan fasilitas dan pembaruan sistem menjadi kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan kenyamanan pengguna.

Peningkatan Kapasitas Rangkaian dan Infrastruktur Listrik

Rencana peningkatan kapasitas ini mencakup perubahan jumlah gerbong dari yang semula hanya 8 atau 10 kereta (SF8 dan SF10) menjadi 12 kereta dalam satu rangkaian (SF12). Namun, penambahan panjang rangkaian ini memerlukan dukungan daya listrik yang lebih besar di sepanjang jalur tersebut.

Untuk mendukung pengoperasian rangkaian 12 kereta, KAI perlu menambah 11 gardu traksi listrik guna memperkuat pasokan listrik aliran atas (LAA). Bobby menjelaskan bahwa proses peningkatan daya ini tidak sesederhana menambah daya dari PLN, melainkan harus membangun infrastruktur gardu tambahan.

Rencana pembangunan dan peningkatan infrastruktur listrik tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat:

  • Proses pengerjaan peningkatan daya LAA rencananya akan dimulai dalam waktu dua minggu ke depan.
  • Pembangunan 11 gardu traksi baru menjadi prioritas utama agar mampu menyuplai kebutuhan daya rangkaian kereta yang lebih panjang.
  • Penyesuaian spesifikasi kelistrikan agar setara dengan lintas komuter lainnya yang sudah lebih maju.

Bobby menyampaikan informasi ini saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR pada Rabu, 3 Juni 2026. Ia menekankan bahwa tanpa tambahan gardu ini, pengoperasian rangkaian kereta yang lebih panjang tidak akan optimal.

Saat ini, daya listrik di jalur Rangkasbitung diketahui hanya mencapai 3.000 volt, tertinggal jauh dari lintas Bogor dan Bekasi yang sudah menggunakan daya 4.000 volt. Keterbatasan teknis inilah yang menjadi alasan utama mengapa rangkaian SF12 belum bisa melayani penumpang di jalur Tanah Abang menuju Rangkasbitung.

Setelah pembangunan gardu selesai dan daya listrik mencukupi, barulah rangkaian kereta dengan 12 gerbong dapat dioperasikan secara penuh. Hal ini diharapkan bisa memberikan ruang lebih luas bagi penumpang dan mengurangi kepadatan di dalam gerbong.

Modernisasi Sistem Persinyalan untuk Mempercepat Headway

Aspek lain yang menjadi perhatian serius Bobby Rasyidin adalah perombakan total pada sistem persinyalan di lintasan Rangkasbitung. Sistem yang digunakan saat ini dinilai sudah terlalu lama dan menggunakan metode blok tertutup yang memiliki keterbatasan operasional.

Metode blok tertutup ini mengakibatkan dalam satu area blok yang mencakup beberapa stasiun hanya boleh dilalui oleh satu rangkaian kereta saja. Akibatnya, frekuensi perjalanan menjadi terbatas dan waktu tunggu antar-kereta menjadi lebih lama dibandingkan rute lainnya.

Berikut adalah perbandingan kondisi operasional saat ini antara lintas Rangkasbitung dengan lintas lainnya:

Aspek Operasional Lintas Rangkasbitung Lintas Bogor/Bekasi
Waktu Tunggu (Headway) 10 Menit 3 - 4 Menit
Sistem Persinyalan Blok Tertutup (Kuno) Blok Terbuka (Modern)
Kapasitas Listrik (LAA) 3.000 Volt 4.000 Volt
Rangkaian Maksimal SF8 / SF10 SF12

Tabel di atas menunjukkan kesenjangan fasilitas yang membuat layanan di jalur Rangkasbitung belum seefisien jalur lainnya. KAI berkomitmen untuk segera melakukan pembaruan sistem menjadi blok terbuka agar kapasitas lintas meningkat tajam.

Dengan beralih ke sistem blok terbuka, headway yang saat ini mencapai 10 menit bisa dipangkas secara signifikan. Targetnya, frekuensi perjalanan bisa mendekati lintas Bogor atau Bekasi yang memiliki waktu tunggu hanya sekitar 3 hingga 4 menit saja.

Penyebab KRL Rangkasbitung Selalu Penuh Sesak

Dalam kesempatan tersebut, Bobby juga memaparkan data yang menunjukkan mengapa KRL rute Rangkasbitung selalu menjadi pembicaraan karena kepadatannya. Berdasarkan catatan KAI, jumlah pengguna KRL Jabodetabek secara keseluruhan telah mencapai 1,3 juta orang setiap harinya.

Dari total tersebut, lintasan Tanah Abang-Rangkasbitung tercatat sebagai rute paling padat dengan tingkat okupansi mencapai 161 persen pada jam sibuk. Bobby memberikan gambaran betapa padatnya kondisi tersebut, di mana satu meter persegi luas lantai kereta bisa diisi hingga 8 orang.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kondisi penuh sesak ini sulit dihindari tanpa adanya perubahan infrastruktur:

  • Jumlah gerbong yang terbatas pada SF8 dan SF10 tidak sebanding dengan volume penumpang yang terus meningkat.
  • Kapasitas angkut yang jauh lebih kecil dibandingkan rute Bogor (okupansi 130%) dan rute Bekasi (okupansi 140%).
  • Ketidakmampuan infrastruktur listrik 3.000 volt dalam mendukung operasional kereta dengan jumlah gerbong yang lebih banyak.

Analisis ini menunjukkan bahwa masalah di rute Rangkasbitung merupakan akumulasi dari kendala teknis dan tingginya permintaan masyarakat. Penambahan gerbong dan modernisasi sinyal menjadi satu-satunya jalan keluar untuk memperbaiki layanan transportasi publik di jalur tersebut.

Bobby berharap dengan dimulainya pengerjaan peningkatan daya listrik dan pembaruan sinyal, keluhan masyarakat mengenai kepadatan kereta dapat segera teratasi. KAI terus berupaya menyetarakan standar pelayanan di seluruh rute Jabodetabek agar mobilitas warga semakin lancar dan nyaman.

Artikel terkait

Rekomendasi