Praktik perjokian TOEFL prediction semakin marak ditemukan di Jakarta dengan menyasar para mahasiswa tingkat akhir yang terdesak syarat administrasi kelulusan pada Kamis (16/4/2026). Dilansir dari Megapolitan, layanan ini menawarkan paket sertifikat cepat dengan rentang harga Rp350.000 hingga Rp700.000 tanpa mewajibkan peserta mengikuti ujian secara langsung.
Skema bisnis ilegal ini melibatkan struktur organisasi yang rapi, mulai dari admin sebagai pengelola interaksi pelanggan hingga joki yang bertugas mengerjakan soal. Pengelola lembaga kursus di Jakarta Selatan, Arif, mengungkapkan bahwa permintaan sertifikat instan tersebut mayoritas berasal dari mahasiswa yang membutuhkan dokumen untuk yudisium.
"Kalau yang kursus ya semua orang bisa daftar. Tapi memang ada permintaan lain, biasanya dari mahasiswa yang kepepet," kata Arif, Pengelola Lembaga Kursus.
Arif menambahkan bahwa promosi layanan ini dilakukan secara tertutup melalui rekomendasi antar-rekan karena sifatnya yang sensitif.
"Enggak mungkin kami pasang iklan terang-terangan. Ini biasanya orang datang karena dikasih tahu temannya," ujar Arif, Pengelola Lembaga Kursus.
Komunikasi antara calon pengguna jasa dan penyedia layanan biasanya berlangsung secara privat melalui aplikasi pesan singkat guna menjaga kerahasiaan identitas pemesan.
"Biasanya mereka chat admin. Karena kalau datang langsung kadang mereka malu ngomongnya," kata Arif, Pengelola Lembaga Kursus.
Pihak pengelola menegaskan bahwa dokumen yang dikeluarkan hanya berupa sertifikat internal lembaga, bukan dokumen resmi berskala internasional.
"Sertifikatnya atas nama lembaga kami. Bukan TOEFL internasional. Ini yang biasanya dipakai kampus untuk syarat administrasi," kata Arif, Pengelola Lembaga Kursus.
Kelonggaran sistem verifikasi di berbagai perguruan tinggi dianggap menjadi faktor utama yang melanggengkan praktik jual beli skor bahasa Inggris ini.
"Banyak kampus cuma lihat ada sertifikat, ada skor, selesai. Jarang yang benar-benar cek apakah lembaganya kredibel atau tidak," ujar Arif, Pengelola Lembaga Kursus.
Kevin, seorang joki asal Jakarta Utara yang telah beroperasi sejak 2020, menceritakan pengalamannya dalam mengerjakan ujian milik klien menggunakan akun pribadi peserta.
"Kalau dari sisi kemampuan bahasa Inggris, saya memang sudah terbiasa. Dulu kuliah Sastra Inggris, jadi materi TOEFL itu sudah kayak makanan sehari-hari," kata Kevin, Joki TOEFL.
Pekerjaan ini awalnya bermula dari tindakan membantu rekan satu kampus sebelum akhirnya berkembang menjadi jasa profesional bagi mahasiswa semester akhir.
"Waktu itu teman saya bilang, ini cuma buat syarat kampus, bukan buat beasiswa. Saya bantuin sekali, habis itu ternyata ada yang nanya lagi," ujar Kevin, Joki TOEFL.
Metode daring menjadi pilihan favorit karena joki dapat mengakses akun peserta dari jarak jauh, meskipun ujian luring masih tetap dilayani dengan risiko penyamaran yang lebih tinggi.
"Kalau online itu lebih gampang. Saya dikasih akun peserta, nanti saya kerjain dari rumah. Sertifikat biasanya keluar bentuk PDF," ujar Kevin, Joki TOEFL.
Ia juga menjelaskan adanya struktur tarif berdasarkan tingkat kesulitan skor yang diminta oleh para pengguna jasa.
"Kalau minta 450 atau 475 itu biasanya murah. Tapi kalau sudah minta 520 ke atas, itu beda. Karena saya harus lebih fokus dan hati-hati," ujar Kevin, Joki TOEFL.
Joki lainnya, Riski, menuturkan bahwa pembagian tugas sudah diatur secara teknis oleh admin sehingga joki hanya fokus pada pelaksanaan ujian sesuai jadwal.
"Saya enggak ngurus chat panjang. Ada admin. Saya cuma dapat nama, jadwal, lokasi, sama target skor yang diminta," kata Riski, Joki TOEFL.
Riski menilai pengawasan yang minim dari lembaga penyelenggara ujian mempermudah aksi perjokian, terutama dalam proses pengecekan kartu identitas.
"Kadang cuma ditanya nama, terus dikasih kertas soal. Ada yang minta KTP, tapi cuma dilihat sekilas," ujar Riski, Joki TOEFL.
Biaya yang dipatok untuk jasa ini ditentukan berdasarkan kecepatan penerbitan sertifikat serta batas nilai minimal yang diinginkan klien.
"Harga paling murah itu Rp 350.000. Itu biasanya cuma buat yang butuh angka minimal," kata Riski, Joki TOEFL.
Seorang mahasiswa asal Depok bernama Izar mengaku terpaksa menggunakan jasa ini setelah berulang kali gagal mencapai skor yang diwajibkan pihak kampus.
"Semua sudah beres, tinggal daftar sidang. Tapi TOEFL saya kurang terus. Saya sudah tes tiga kali, tetap enggak tembus," kata Izar, Mahasiswa.
Alasan serupa disampaikan Nabila yang merasa terdesak karena ijazah kelulusannya tertahan oleh birokrasi akademik di universitasnya.
"Saya sudah yudisium. Tapi pas mau ambil ijazah, akademik bilang harus ada TOEFL dulu," kata Nabila, Mahasiswa.
Kebutuhan mendesak untuk mengikuti prosesi wisuda juga mendorong Rafi mengambil langkah instan dengan membayar biaya sebesar Rp600.000.
"Kampus saya bilang kalau enggak ada TOEFL, enggak bisa ikut wisuda. Padahal saya sudah bayar biaya wisuda," kata Rafi, Mahasiswa.
Kekhawatiran akan pemeriksaan berkas sempat dirasakan oleh Salsa, namun ia melihat proses verifikasi di kampus cenderung bersifat formalitas administratif semata.
"Iya takut banget. Pas mau ngumpulin berkas itu saya deg-degan. Takut tiba-tiba dicek atau ditanya macam-macam," kata Salsa, Mahasiswa.
Ia menyebutkan bahwa penggunaan jasa joki untuk memenuhi syarat skor TOEFL sudah menjadi rahasia umum di lingkungan perkuliahan.
"Kalau di kalangan mahasiswa, ini kayak rahasia umum," tutur Salsa, Mahasiswa.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, berpendapat bahwa fenomena ini merupakan bentuk adaptasi inovatif akibat tekanan struktural dalam sistem pendidikan.
"Adaptasi inovatif berlangsung ketika individu tetap menerima tujuan sosial, tetapi menggunakan cara-cara yang tidak sah karena akses terhadap cara yang sah dianggap terbatas atau terlalu berat," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Ia menegaskan bahwa tindakan mahasiswa tersebut merupakan hasil perhitungan logis antara biaya pendidikan yang tinggi dan peluang kesuksesan yang cepat.
"Tindakan ini bukan sekadar kegagalan moral, tetapi perhitungan untung-rugi, biaya belajar tinggi versus peluang sukses instan lewat joki," ucap Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Kesenjangan akses terhadap kursus berkualitas dinilai memperkuat dominasi kelompok tertentu dalam meraih skor tinggi secara simbolis di pasar kerja.
"Pasar joki muncul karena adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan akses," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Dampak jangka panjang dari praktik ini mencakup erosi kepercayaan terhadap legitimasi institusi pendidikan serta menciptakan inefisiensi sosial di masa depan.
"Ketiga, reproduksi ketimpangan. Mereka yang mampu membeli skor akan terus unggul secara simbolik," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Kekacauan norma sosial atau anomie menjadi ancaman nyata apabila aturan-aturan formal dalam masyarakat tidak lagi dihormati oleh anggotanya.
"Ketika aturan tidak lagi dipercaya, masyarakat bisa masuk ke kondisi di mana norma kehilangan makna," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Sosiolog tersebut juga menyoroti peran TOEFL sebagai penyaring sosial yang menentukan akses individu terhadap berbagai peluang mobilitas ekonomi.
"TOEFL bukan hanya alat ukur bahasa tetapi juga alat seleksi sosial. Mobilitas sosial menjadi bergantung pada kemampuan memenuhi standar yang belum tentu merata aksesnya," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.