INJOURNEY Tourism Development Corporation (ITDC) secara aktif mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di dua kawasan utama, yakni The Nusa Dua, Bali, dan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Langkah ini merupakan bagian dari pengintegrasian ketahanan iklim, efisiensi energi, serta pengelolaan limbah dan air dalam satu ekosistem kawasan yang berkelanjutan, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Direktur Komersial & Marketing ITDC, Febrina Mediana, menjelaskan bahwa RTH memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sekaligus memperkuat daya saing destinasi pariwisata nasional.
Menurut Febrina, RTH bukan sekadar elemen lanskap dekoratif, melainkan infrastruktur ekologis yang berkontribusi pada kualitas udara, pengendalian suhu, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Penguatan area hijau di The Nusa Dua dan The Mandalika dirancang untuk menghadirkan ekosistem wisata yang sehat dan nyaman bagi pengunjung, melebihi sekadar keindahan visual semata.
"Pendekatan ini sekaligus menegaskan komitmen ITDC dalam menjaga keberlanjutan destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia dalam jangka panjang," kata Febrina, Jumat (15/05).
Di kawasan The Nusa Dua, ITDC mengelola lahan hijau seluas sekitar 97 hektare, atau mencakup 27 persen dari total luas kawasan yang mencapai 359,7 hektare.
Sebanyak 43 hektare lahan telah ditanami lebih dari 5.700 pohon yang terdiri dari 138 jenis vegetasi, termasuk 32 jenis pohon lokal serta endemik.
Keberadaan vegetasi ini berfungsi sebagai paru-paru kawasan yang mendukung pengendalian suhu mikro dan menyediakan ruang publik yang inklusif bagi masyarakat maupun wisatawan.
The Nusa Dua juga menerapkan sistem utilitas berkelanjutan melalui pengelolaan limbah berbasis lagoon yang telah beroperasi sejak tahun 1979.
Sistem ini mampu mengolah hingga 10.000 meter kubik air limbah per hari untuk digunakan kembali sebagai irigasi lahan hijau dalam konsep circular water system.
Kajian terbaru menunjukkan total serapan karbon di kawasan ini mencapai 16.279,57 ton, dengan kandungan karbon sekitar 48,2 ton C per hektar atau setara 176,8 ton CO2e per hektar.
Transformasi Hijau dan Mangrove di The Mandalika
Pengembangan pariwisata berkelanjutan juga dilakukan di The Mandalika dengan mengalokasikan RTH seluas 363 hektare dari total luas kawasan 1.175 hektare.
Sepanjang tahun 2025, program rehabilitasi lingkungan telah berhasil menanam lebih dari 10.400 pohon sebagai upaya konservasi dan peningkatan kualitas lingkungan pesisir.
Pada tahun 2026, ITDC melanjutkan langkah strategis ini dengan menanam 15.000 pohon mangrove guna memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi dan habitat pesisir.
Konsep pengembangan di Mandalika mengintegrasikan green space dan blue space yang memadukan ruang vegetasi dengan elemen air seperti laguna dan area konservasi.
Pendekatan terpadu ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan kawasan terhadap dampak perubahan iklim sekaligus memberikan nilai tambah bagi ekosistem lokal secara berkelanjutan.
"Integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance, ITDC menempatkan RTH sebagai infrastruktur hijau strategis yang tidak hanya memperkuat daya saing destinasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mendukung pengembangan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan, resilien, dan rendah karbon," tandas Febriana.