ITB Tegaskan Skandal Manipulasi Riset di Denmark Tanggung Jawab Pribadi Alumninya

ITB Tegaskan Skandal Manipulasi Riset di Denmark Tanggung Jawab Pribadi Alumninya
Foto: Ilustrasi ITB Tegaskan Skandal Manipulasi Riset di Denmark Tanggung Jawab Pribadi Alumninya.

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan bahwa dugaan manipulasi riset yang dilakukan salah satu alumninya, Prihantini, dalam konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark, merupakan tanggung jawab pribadi. Kasus tersebut mencuat pada kegiatan yang berlangsung 17-21 Mei lalu, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.

Pihak universitas menegaskan tindakan tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas akademik maupun integritas institusi kampus. Berdasarkan data internal, Prihantini merupakan lulusan Program Magister Matematika angkatan 2020 yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Aep Patah, memaparkan materi presentasi yang bersangkutan di Denmark sangat berbeda dengan fokus studinya semasa di ITB. Tesis Prihantini membahas mengenai kajian analitik gelombang air akibat longsoran pada pantai miring, sementara presentasinya di ISPPD bertema pneumonia.

"ITB memandang bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud," ujar Aep Patah, Dekan FMIPA ITB.

Dugaan fabrikasi data ini pertama kali diungkap oleh peneliti Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, melalui media sosial. Manipulasi hasil penelitian oleh kelompok periset Indonesia ini diduga menjadi modus untuk memperoleh dana hadiah dari penyelenggara konferensi.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) turut memantau perkembangan kasus ini karena berpotensi memengaruhi reputasi ekosistem riset nasional di tingkat dunia. Para terduga pelaku sendiri dipastikan bukan merupakan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi dalam negeri.

"Persoalan ini tetap menjadi perhatian Kementerian Diktisaintek karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas di mata dunia," kata Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sebagai langkah antisipasi terhadap kasus tersebut, pihak rektorat ITB kini memperketat standardisasi pengawasan karya ilmiah demi menjaga reputasi universitas. Manajemen kampus menjamin ekosistem pendidikan di ITB tetap menjunjung kejujuran ilmiah serta tidak menoleransi segala bentuk plagiarisme maupun fabrikasi data.

Artikel terkait

Rekomendasi