Israel Masuk ke Kota Besar Lebanon, Deretan Fakta Terbaru Ini Mengejutkan 2026

Israel Masuk ke Kota Besar Lebanon, Deretan Fakta Terbaru Ini Mengejutkan 2026
Foto: Israel Masuk ke Kota Besar Lebanon, Deretan Fakta Terbaru Ini Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)

Situasi di Lebanon selatan semakin memanas setelah militer Israel dilaporkan berhasil merangsek masuk ke wilayah Nabatieh. Kota ini merupakan salah satu pusat pemukiman terbesar di kawasan tersebut yang memiliki nilai strategis tinggi bagi Lebanon.

Pergerakan pasukan Israel ini menandai momen penting karena mereka telah melewati Sungai Litani untuk pertama kalinya sejak konflik tahun 2006 silam. Langkah ini mengindikasikan keseriusan militer Israel dalam mengepung Nabatieh dan memperluas kendali mereka di wilayah selatan.

Eskalasi Militer di Nabatieh dan Sekitarnya

Seorang sumber militer senior Lebanon mengonfirmasi kepada kantor berita Anadolu bahwa pasukan Israel memang telah menyeberangi Sungai Litani. Wilayah ini sebelumnya diklaim secara sepihak oleh Israel sebagai batas dari zona penyangga mereka.

Pasukan Israel saat ini dilaporkan sudah berada di pinggiran Nabatieh, sebuah kota yang menjadi pilar ekonomi dan pusat kebudayaan Lebanon selatan. Jatuhnya kota yang mayoritas penduduknya kaum Syiah ini dianggap bakal menjadi titik balik besar dalam jalannya peperangan.

Bagi rakyat Lebanon, Nabatieh bukan sekadar kota biasa, melainkan simbol perlawanan karena sejarah panjangnya berada di garis depan saat terjadi serangan Israel. Kehilangan kendali atas kota ini bisa memaksa terjadinya gencatan senjata resmi dengan posisi tawar yang berbeda.

Koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, melaporkan dari kota Tyre bahwa Israel tengah mengintensifkan serangan udara guna mengepung Nabatieh. Strategi ini diduga kuat bertujuan untuk menembus lini pertahanan kedua dan ketiga yang dibangun oleh kelompok Hizbullah.

Rangkuman tujuan strategis serangan militer Israel di wilayah selatan:

  • Melakukan pengepungan total terhadap pusat kota Nabatieh untuk melemahkan moral lawan.
  • Menghancurkan baris pertahanan berlapis yang dimiliki oleh kelompok bersenjata Hizbullah.
  • Memutus jalur logistik dan komunikasi antara Lembah Bekaa Barat dengan wilayah Lebanon selatan.
  • Mengamankan zona penyangga di sepanjang perbatasan sesuai dengan kepentingan keamanan mereka.

Upaya militer ini tidak hanya menyasar pejuang bersenjata, tetapi juga mulai berdampak pada otoritas resmi Lebanon. Pihak militer Lebanon melaporkan dua prajurit mereka mengalami luka serius akibat serangan pesawat tak berawak (drone) Israel di dekat Nabatieh.

Dampak Kemanusiaan dan Serangan Fasilitas Kesehatan

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengabarkan adanya korban jiwa dari pihak tenaga medis akibat serangan drone di desa Jebchit. Setidaknya satu orang paramedis dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Serangan tersebut juga menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan Rumah Sakit Bantuan Lebanon yang berada di lokasi kejadian. Meski bangunan rusak, seluruh staf medis, perawat, serta armada ambulans dilaporkan dalam kondisi selamat dari maut.

Ketegangan juga meluas ke area bersejarah seperti Kastil Beaufort yang berjarak sekitar 15 kilometer dari garis perbatasan. Kastil peninggalan abad ke-12 ini menjadi sasaran tembakan artileri dan serangan udara karena lokasinya yang menghadap ke area luas di Lebanon selatan.

Sebagai informasi, kastil strategis tersebut pernah berada di bawah pendudukan militer Israel selama 18 tahun. Pasukan Israel baru menarik diri sepenuhnya dari wilayah tersebut pada bulan Mei tahun 2000 lalu.

Respons Perlawanan dari Pihak Hizbullah

Menanggapi gempuran tersebut, kelompok Hizbullah menyatakan telah meluncurkan rentetan roket ke arah kota Kiryat Shmona di Israel utara. Selain itu, mereka mengklaim telah melakukan penyergapan terhadap tentara Israel di kawasan Ghandouriyeh.

Penyergapan tersebut diklaim berhasil memukul mundur pasukan Israel yang mencoba merangsek masuk lebih jauh. Hizbullah juga merilis pernyataan mengenai penghancuran satu unit kendaraan militer Israel yang berada di dekat desa Yohmor al-Shaqif.

Aksi balasan lainnya melibatkan penggunaan drone yang menyasar markas komando militer Israel di wilayah Naqoura. Di saat yang sama, rudal-rudal juga ditembakkan ke arah infrastruktur militer yang berada di kota Nahariyya, Israel bagian utara.

Krisis Pengungsi dan Perintah Evakuasi Massal

Di tengah upaya diplomasi yang sedang berjalan, Israel justru mengeluarkan perintah evakuasi mendesak bagi warga di 10 desa Lebanon selatan. Perintah ini disampaikan langsung oleh juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, melalui saluran komunikasi bahasa Arab.

Warga diperingatkan untuk segera meninggalkan kediaman mereka demi menghindari risiko kehilangan nyawa akibat perluasan operasi militer. Kondisi ini membuat warga sipil semakin terjepit dengan pilihan tempat pengungsian yang sangat terbatas.

Data terkini mengenai kondisi warga sipil yang terdampak konflik:

Kategori Data Jumlah / Keterangan
Total Pengungsi Sekitar 1,2 Juta Orang
Persentase Populasi Terdampak Lebih dari 20% Penduduk Lebanon
Lokasi Pengungsian Rumah Kerabat, Kamp Darurat, Taman Kota
Durasi Pengungsian Beberapa Keluarga Telah Mengungsi Sejak 2023

Banyak keluarga yang terpaksa bertahan hidup di dalam kendaraan mereka dalam waktu yang cukup lama karena tidak memiliki tempat tujuan. Krisis ini semakin memburuk bagi mereka yang sudah berkali-kali berpindah tempat sejak konflik pecah tahun lalu.

Upaya Diplomasi di Tengah Eskalasi Perang

Instruksi evakuasi massal ini muncul tepat setelah pejabat Lebanon dan Israel bertemu di Washington untuk membahas perdamaian. Pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh ketegangan regional sejak Maret lalu.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, memberikan kritik pedas terhadap tindakan Israel yang dinilainya melakukan eskalasi berbahaya. Menurutnya, serangan yang masuk hingga ke kota besar belum pernah terjadi sebelumnya dan merusak upaya perdamaian.

Meskipun demikian, Nawaf Salam tetap mempertahankan keputusan pemerintahnya untuk melakukan negosiasi langsung dengan pihak Israel. Ia menegaskan bahwa jalur dialog adalah opsi yang paling minim risiko bagi keselamatan rakyat Lebanon secara keseluruhan.

PM Salam juga telah berkoordinasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun guna membahas detail situasi keamanan terkini. Keduanya sepakat untuk mempercepat langkah-langkah diplomatis guna menghentikan krisis kemanusiaan yang semakin parah di lapangan.

Presiden Aoun sendiri telah menjalin komunikasi telepon dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. Dalam percakapan tersebut, Aoun menekankan pentingnya komitmen Israel untuk menghormati setiap poin dalam kesepakatan gencatan senjata yang berlaku.

Proses negosiasi yang difasilitasi oleh Amerika Serikat ini diharapkan akan berlanjut ke babak baru di Washington pada pekan depan. Publik berharap pembicaraan tersebut menghasilkan solusi konkret untuk mengakhiri penderitaan warga sipil di kedua belah pihak.

Artikel terkait

Rekomendasi