Pemerintah Iran melayangkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat (AS) terkait dugaan penggunaan metode siber tersembunyi untuk melumpuhkan infrastruktur digital. Pejabat Teheran menyebut perangkat jaringan buatan Cisco, Juniper, hingga Fortinet sengaja dimatikan selama konflik berlangsung.
Laporan dari Iran mengungkapkan bahwa sejumlah perangkat keras buatan vendor asal Amerika tersebut mengalami gangguan teknis yang tidak wajar. Gejala yang muncul meliputi sistem yang melakukan restart secara otomatis hingga koneksi yang tiba-tiba terputus di tengah operasi siber.
Kecurigaan ini menguat karena gangguan tetap terjadi meskipun Iran telah memutus akses negaranya dari jaringan internet global. Pihak Iran menilai rentetan kegagalan sistem ini bukan merupakan kebetulan teknis biasa, melansir informasi dari media Teknologi.
Muncul dugaan kuat bahwa perangkat-perangkat tersebut telah disabotase dari jarak jauh melalui mekanisme backdoor yang tertanam di dalam firmware atau bootloader. Teori ini menyebutkan bahwa perangkat dapat dikendalikan atau dinonaktifkan kapan saja, bahkan melalui transmisi sinyal satelit.
Selain keberadaan pintu belakang, muncul asumsi bahwa perangkat jaringan di Iran telah terinfeksi botnet secara masif. Kondisi ini memungkinkan pihak luar untuk mengendalikan ribuan perangkat secara serentak guna menciptakan gangguan skala besar pada infrastruktur negara.
Meskipun demikian, verifikasi terhadap klaim ini masih sulit dilakukan secara independen. Saat ini, Iran tengah menerapkan pembatasan internet yang sangat ketat, sehingga arus informasi keluar dan masuk menjadi sangat terbatas bagi pengamat eksternal.
Reputasi AS dalam operasi siber tingkat tinggi memang sudah lama diakui secara internasional. Beberapa pejabat militer Amerika Serikat sebelumnya sempat memberikan isyarat bahwa serangan siber telah menjadi bagian integral dari strategi pertahanan dan serangan mereka dalam menghadapi konflik.
Reaksi China dan Isu Volt Typhoon
Media pemerintah China merespons cepat laporan dari Iran tersebut dengan menegaskan posisi mereka sebagai pihak pasif dalam kancah siber global. Sebaliknya, Beijing justru menunjuk Washington sebagai aktor utama di balik berbagai serangan siber dunia.
Dilansir dari The Register Rabu (22/4/2026), lembaga China National Computer Virus Emergency Response Center (CVERC) rutin menyebarkan dokumen yang merujuk pada bocoran Edward Snowden. Dokumen tersebut diklaim membuktikan adanya penyisipan backdoor oleh AS pada peralatan jaringan.
CVERC juga menyatakan bahwa operasi siber Volt Typhoon, yang dituduhkan negara-negara Five Eyes kepada China, merupakan operasi bendera palsu. Mereka menyebut intelijen AS sengaja menciptakan narasi tersebut untuk merusak reputasi digital China di mata dunia.
Di sisi lain, situasi akses informasi di dalam Iran masih memprihatinkan. Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan bahwa pemblokiran internet telah berlangsung selama lebih dari 52 hari, dengan akses yang sangat terbatas hanya bagi kelompok-kelompok tertentu yang disetujui pemerintah.