Investasi Energi Terbarukan Lebih Unggul Dibanding Teknologi Sedot Karbon

Investasi Energi Terbarukan Lebih Unggul Dibanding Teknologi Sedot Karbon
Foto: Ilustrasi Investasi Energi Terbarukan Lebih Unggul Dibanding Teknologi Sedot Karbon.

Studi terbaru dalam jurnal Communication Sustainability mengungkapkan bahwa investasi pada energi terbarukan jauh lebih efektif dalam mengurangi emisi karbon dibandingkan teknologi Direct Air Capture (DAC). Penemuan ini dilaporkan pada Senin (4/5/2026) setelah peneliti menganalisis manfaat kesehatan dan iklim di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Hasil penelitian yang dilansir dari Lestari menunjukkan bahwa membangun pembangkit listrik tenaga angin atau surya memberikan keuntungan lebih besar bagi masyarakat hingga tahun 2050. Tim ahli membandingkan alokasi dana yang sama antara pembangunan infrastruktur energi bersih dengan pengoperasian mesin penyedot karbon.

Dr. Yannai Kashtan menjelaskan bahwa kemampuan menyerap karbon saja belum cukup untuk menjadikan teknologi DAC sebagai pilihan investasi utama bagi pemerintah saat ini.

"Penelitian kami menekankan bahwa sekadar menjadi 'negatif karbon' saja tidak cukup untuk membuat teknologi penyedot karbon (DAC) menjadi investasi yang menguntungkan," ujar Dr. Yannai Kashtan, penulis utama sekaligus Ilmuwan Kualitas Udara di PSE Healthy Energy.

Para peneliti melakukan simulasi di 22 wilayah Amerika Serikat dengan menguji empat skenario teknologi DAC, mulai dari kinerja saat ini hingga potensi terobosan besar di masa depan. Data menunjukkan bahwa mesin DAC saat ini membutuhkan energi sekitar 5.500 kWh dengan biaya 1.000 dolar AS untuk setiap ton karbon yang ditangkap.

Meskipun efisiensi mesin ditingkatkan secara drastis dalam skenario ambisius, manfaat kesehatan dan lingkungan dari energi terbarukan tetap ditemukan berkali-kali lipat lebih tinggi. Mesin penyedot karbon yang ada sekarang bahkan berisiko melepaskan polusi gas rumah kaca lebih banyak karena ketergantungan pada listrik dari sumber bahan bakar fosil.

Dr. Jonathan J. Buonocore menekankan pentingnya efektivitas penggunaan dana publik untuk memperbaiki kondisi iklim global dengan dampak negatif yang paling minimal.

"Tujuannya agar uang yang kita pakai untuk memperbaiki iklim memberikan hasil yang maksimal, namun dengan efek samping yang sesedikit mungkin," ujar Dr. Jonathan J. Buonocore, penulis senior dan asisten profesor kesehatan lingkungan di Boston University School of Public Health dan Institute for Global Sustainability.

Analisis tersebut turut memperhitungkan risiko polusi lokal seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang dihasilkan jika mesin DAC terhubung ke jaringan listrik konvensional. Meski demikian, para ahli tidak melarang penggunaan DAC sepenuhnya, melainkan menyarankan teknologi ini hanya digunakan untuk membersihkan sisa karbon atmosfer setelah polusi saat ini berhasil dikurangi secara signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi