Para insinyur asal Jerman mengembangkan jenis rover baru yang bergerak dengan teknik mirip berenang di dalam pasir agar tidak mudah terjebak. Inovasi ini dibuat untuk menghadapi medan berpasir Mars yang sulit dilalui, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Inspirasi desain unik ini berasal dari ikan pasir Afrika (Scincus scincus), sejenis kadal gurun yang hidup di Sahara. Hewan tersebut mampu menggali serta bergerak di bawah pasir layaknya ikan berenang di air, sehingga potensial membantu masa depan eksplorasi Mars.
Melalui video yang dirilis Universitas W├╝rzburg, rover berwarna perak berukuran mirip kulkas mini itu terlihat bergerak di atas arena pasir yang dirancang menyerupai permukaan Mars. Berbeda dari rover biasa yang bergerak dengan roda berputar normal, keempat roda rover ini memotong pasir menggunakan gerakan menyerupai pola angka delapan.
Robot tersebut mampu bergerak maju beberapa meter, berbelok, lalu kembali ke titik awal dengan stabil.
"Roda-roda ini meniru interaksi khas ikan pasir dengan tanah, menghasilkan gaya longitudinal dan lateral," ujar peneliti Universitas W├╝rzburg, Amenosis Lopez.
Menurutnya, roda rover juga meninggalkan jejak berbentuk sinusoidal di permukaan pasir.
Meski robot penjelajah luar angkasa identik dengan roda bundar atau rantai seperti kendaraan di film WALL-E, desain tersebut ternyata belum ideal untuk menghadapi kondisi Mars yang ekstrem dan dipenuhi pasir. Pasir memiliki karakteristik unik karena dapat bertindak seperti benda padat sekaligus cair.
Medan di Mars juga dipenuhi lereng curam, permukaan tidak rata, serta area pasir lunak yang mudah membuat roda rover terjebak. Namun, alam telah lebih dulu menemukan solusi untuk masalah tersebut melalui ikan pasir Sahara.
Meski namanya ikan pasir, hewan ini sebenarnya adalah kadal dari keluarga skink. Saat berada di permukaan, ia berjalan seperti kadal biasa menggunakan kaki kecilnya. Ketika masuk ke pasir, tubuhnya bergerak bergelombang kuat untuk mendorong dirinya maju di bawah permukaan.
Melalui pencitraan sinar-X, ilmuwan menemukan bahwa gerakan tubuh ikan pasir sangat mirip dengan ikan yang berenang di air. Gerakan tersebut menghasilkan dorongan sekaligus mengurangi hambatan pasir di sekitarnya.
Pada 2011, para insinyur Georgia Tech juga pernah membuat robot berbasis gerakan ikan pasir. Penelitian mereka menunjukkan bentuk kepala ikan pasir yang menyerupai baji membantu hewan itu mengapung dan bergerak lebih mudah di dalam pasir.
Tantangan dan Pengembangan Uji Coba
Tim pengembang rover terbaru ini mengklaim desain roda baru mereka lebih stabil dibanding roda bundar biasa saat melewati medan berpasir. Ketika roda konvensional cenderung berguncang dan mudah kehilangan arah, roda berosilasi pada rover baru mampu menjaga kestabilan pergerakan.
Meski begitu, pengembangan teknologi ini tidak langsung berhasil. Model awal rover dilaporkan terlalu berat sehingga justru tenggelam ke dalam pasir saat diuji.
Para peneliti kemudian mendesain ulang rover dengan memperlebar roda dan mengurangi bobot keseluruhan perangkat agar dapat bergerak lebih efektif.
Walau menjanjikan, teknologi ini masih membutuhkan banyak pengembangan sebelum benar-benar digunakan dalam misi rover NASA di Mars. Para ilmuwan masih harus meningkatkan kemampuan kendali rover serta mengatasi masalah selip di medan nyata yang jauh lebih kompleks.
Selain itu, rover masa depan juga harus mampu membawa berbagai instrumen ilmiah dan muatan tambahan lainnya. Desain rover ini menjadi bukti bagaimana alam dan proses evolusi dapat menginspirasi solusi teknik modern untuk menjelajahi lingkungan paling ekstrem di tata surya.