Rasa takut dan sensasi merinding saat berada di lokasi sepi atau bangunan tua ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan frekuensi suara. Fenomena ini bukan disebabkan oleh penampakan makhluk halus, melainkan akibat paparan infrasound yang tidak tertangkap telinga manusia.
Dilansir dari Detik iNET, peneliti di Kanada melakukan eksperimen terhadap 36 relawan dengan memaparkan mereka pada frekuensi suara di bawah 20 Hz. Meskipun tidak terdengar secara langsung, suara dengan intensitas tinggi ini mampu memberikan efek fisik yang nyata pada tubuh manusia.
Hasil studi menunjukkan bahwa individu yang terpapar infrasound cenderung merasakan ketidaknyamanan yang signifikan. Para subjek melaporkan perasaan mudah tersinggung serta menunjukkan peningkatan kadar kortisol yang menjadi indikator tingkat stres dalam tubuh.
"Penting untuk dijelaskan bahwa infrasound tidak menyebabkan orang percaya bahwa mereka telah melihat hantu," kata Rodney Schmaltz, penulis studi dan profesor psikologi di Universitas MacEwan.
"Yang mungkin terjadi adalah infrasound menimbulkan rasa tidak nyaman yang tidak dapat dijelaskan, yang kemudian dikaitkan dengan hantu atau kejadian gaib," sambungnya.
Schmaltz menjelaskan bahwa struktur bangunan tua sering kali memiliki sistem perpipaan yang menghasilkan suara bergemuruh pada frekuensi rendah. Getaran ini sering kali menyerupai karakter infrasound yang merangsang respons fisik secara tidak sadar bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Kondisi ini diperparah jika seseorang sudah memiliki ekspektasi atau firasat buruk terhadap suatu tempat. Kehadiran infrasound akan memperkuat rasa tidak nyaman tersebut, sehingga otak cenderung mengasosiasikannya dengan hal-hal yang bersifat mistis.
Eksperimen Konser di London
Penelitian mengenai dampak suara rendah ini sebelumnya pernah dilakukan oleh psikolog Richard Wiseman pada tahun 2002. Dalam eksperimennya, Wiseman menyisipkan frekuensi infrasound ke dalam lagu yang diputar di hadapan ratusan penonton konser di London.
Efeknya cukup mengejutkan, di mana penonton memiliki peluang 22 persen lebih tinggi untuk melaporkan pengalaman aneh. Laporan tersebut mencakup sensasi tidak nyaman pada bagian perut saat mendengarkan komposisi lagu yang mengandung elemen suara rendah tersebut.
Ke depannya, Schmaltz dan tim peneliti berharap dapat melakukan studi lebih mendalam dengan melibatkan lebih banyak subjek dan rentang frekuensi yang lebih luas. Mereka ingin membedah lebih jauh bagaimana persepsi manusia bekerja terhadap rangsangan suara yang tersembunyi.
"Ekspektasi dan kesalahpahaman memainkan peran penting mengapa seseorang mungkin melaporkan pengalaman berhantu. Infrasound mungkin menjadi salah satu faktor tambahan dalam campuran tersebut," kata Schmaltz.
"Bagi mereka yang sudah cenderung menafsirkan perasaan aneh sebagai bukti adanya penampakan, hal itu bisa cukup untuk mengarahkan momen ambigu ke arah penjelasan yang berbau hantu," imbuhnya.