Indonesia menduduki peringkat pertama dunia sebagai pengirim spam sebesar 56,29 persen dan malware sebanyak 61,32 persen pada 2025 menurut laporan terbaru platform intelijen keamanan siber AwanPintar yang dirilis pada Senin, 27 April 2026.
Dilansir dari Teknologi, pergeseran paradigma serangan kini menunjukkan ancaman siber berakar kuat dari dalam negeri dengan memanfaatkan kefasihan bahasa serta konteks budaya lokal untuk mengelabui filter keamanan luar negeri.
Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital memperkuat urgensi masalah ini dengan mencatat kerugian finansial akibat kejahatan siber mencapai Rp476 miliar sepanjang periode November 2024 hingga Januari 2025.
Founder AwanPintar.id sekaligus pengembang teknologi VIMANAMAIL, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa serangan saat ini tidak lagi sekadar teknis, melainkan sudah masuk ke ranah pemahaman konteks lokal.
"Serangan sekarang itu bukan sekadar teknis. Ini sudah soal konteks. Kalau solusinya tidak dibangun dari pemahaman lokal, ya pasti akan selalu ada blind spot," ujar Yudhi Kukuh, Founder AwanPintar.id.
Yudhi mengungkapkan para peretas sengaja membanjiri target dengan serangan spam masif untuk menciptakan kebisingan digital guna memicu keletihan keamanan siber pada karyawan perusahaan.
"Serangan sekarang itu bukan sekadar teknis. Ini sudah soal konteks. Kalau solusinya tidak dibangun dari pemahaman lokal, ya pasti akan selalu ada blind spot," ujar Yudhi Kukuh, Founder AwanPintar.id.
Email yang menjadi pintu masuk serangan berdampak signifikan terhadap tata kelola dan kepatuhan perusahaan, sehingga membutuhkan solusi yang memahami ekosistem internet domestik secara mendalam.
"VIMANAMAIL® lahir di sini, datanya ada di sini, dan didesain khusus untuk memutus rantai serangan sebelum menyentuh server perusahaan," ucap Yudhi Kukuh, Founder AwanPintar.id.
Penerapan perlindungan data ini menjadi krusial di tengah implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) demi menghindari sanksi administratif hingga pidana bagi manajemen perusahaan.