Indeks Bisnis-27 Menguat 0,53 Persen Didorong Kenaikan Saham Tambang

Indeks Bisnis-27 Menguat 0,53 Persen Didorong Kenaikan Saham Tambang
Foto: Ilustrasi Indeks Bisnis-27 Menguat 0,53 Persen Didorong Kenaikan Saham Tambang.

Indeks Bisnis-27 tercatat menguat 0,53 persen ke level 470,43 pada pembukaan perdagangan Rabu, 29 April 2026, di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan ini didominasi oleh performa positif sejumlah saham sektor pertambangan dan otomotif di tengah perhatian investor terhadap kebijakan moneter global.

Data IDX Mobile pukul 09.05 WIB menunjukkan 17 saham konstituen berada di zona hijau, sementara 7 saham melemah dan 3 saham stagnan, sebagaimana dilansir dari Market. PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memimpin penguatan dengan kenaikan 2,57 persen ke posisi Rp6.975 per lembar saham.

Selain INCO, PT Astra International Tbk. (ASII) mengalami peningkatan 2,07 persen menjadi Rp6.150, disusul PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang naik 1,75 persen ke level Rp232. Sektor alat berat dan mineral juga menguat melalui PT United Tractors Tbk. (UNTR) sebesar 1,66 persen dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) naik 1,33 persen.

Kinerja emiten yang masuk dalam Indeks Bisnis-27 pada pembukaan perdagangan disajikan secara lengkap dalam daftar berikut:

Daftar Pergerakan Saham Indeks Bisnis-27
EmitenPerubahan (%)Harga Terakhir (Rp)
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO)+2,576.975
PT Astra International Tbk. (ASII)+2,076.150
PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)+1,75232
PT United Tractors Tbk. (UNTR)+1,6630.675
PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL)+1,331.440
PT Aneka Tambang (persero) Tbk. (ANTM)-0,994.000
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO)-0,981.015
PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF)-0,56880
PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG)-0,281.765

Meskipun indeks menguat, beberapa saham justru mengalami tekanan. PT Aneka Tambang (persero) Tbk. (ANTM) terkoreksi 0,99 persen, sedangkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) turun 0,98 persen, diikuti oleh pelemahan tipis pada saham KLBF dan DSNG.

Ketegangan geopolitik internasional tetap menjadi faktor yang diwaspadai karena memicu kenaikan harga minyak mentah dan potensi inflasi global. Kondisi tersebut mendorong para pelaku pasar cenderung mengambil sikap menghindari risiko yang berdampak pada pergerakan indeks domestik.

Menghadapi risiko inflasi, pemerintah berencana memberlakukan insentif fiskal berupa tarif impor nol persen untuk LPG dan produk plastik tertentu selama enam bulan mulai Mei 2026. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas harga domestik di tengah fluktuasi komoditas energi dunia.

Investor kini menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk hasil pertemuan bank sentral Federal Reserve. Informasi mengenai inflasi PCE, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026, serta laporan keuangan emiten dalam negeri akan menjadi panduan arah investasi selanjutnya.

Artikel terkait

Rekomendasi