Indeks Bisnis-27 mengalami koreksi sebesar 0,78 persen hingga terparkir di posisi 470,97 pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026). Pelemahan indeks yang bekerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini dipicu oleh merosotnya harga saham emiten besar seperti JPFA, UNTR, dan ASII.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan indeks berada pada rentang harian 470,58 hingga 477,65, sebagaimana dilansir dari Market. Dari total 27 konstituen yang terdaftar, tercatat sembilan saham mengalami penurunan, 14 saham menguat, dan empat saham lainnya stagnan.
Sektor pangan dan alat berat menjadi beban utama indeks setelah saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) anjlok 3,80 persen ke harga Rp2.530 per saham. Penurunan ini diikuti oleh emiten Grup Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR), yang terpangkas 3,69 persen menuju level Rp30.675 per saham.
Tekanan jual juga melanda induk usahanya, PT Astra International Tbk. (ASII), dengan pelemahan sebesar 3,16 persen ke posisi Rp6.125 per saham. Selain itu, tiga bank besar turut mencatatkan rapor merah pada sore ini.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 2,22 persen ke level Rp4.400, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melemah 1,33 persen ke Rp3,720. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga ikut terkoreksi 1,24 persen menjadi Rp5.975 per saham.
Meskipun indeks secara keseluruhan melemah, beberapa emiten justru mencatat penguatan signifikan. Saham DSNG melonjak 9,09 persen ke Rp1.860, disusul saham BUMI yang naik 3,70 persen ke Rp224, serta saham MAPI yang menguat 3,50 persen ke level Rp1.330.
Kondisi serupa terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup turun 0,32 persen ke level 7.106,52 pada Senin (27/4/2026). Volume perdagangan hari ini mencapai 33,14 miliar lembar saham dengan nilai transaksi total sebesar Rp16,55 triliun.
Pada penutupan IHSG, sebanyak 264 saham berada di zona merah, 408 saham menguat, dan 147 saham tidak mengalami perubahan harga. Nilai kapitalisasi pasar IHSG pada hari ini tercatat mencapai Rp12.715 triliun.