Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli Lc MA menginisiasi gerakan transformasi pesantren nasional dengan menargetkan 5.000 pengasuh pesantren dari 34 provinsi untuk mengikuti workshop inovasi sepanjang tahun 2026, seperti dilansir dari Cahaya.
Program yang dilaksanakan bertahap ini bertujuan mempercepat perubahan sistem pendidikan, tata kelola, dan strategi pengembangan santri. Gerakan skala nasional tersebut didanai penuh oleh Pesantren Bina Insan Mulia bersama Imam Jazuli Foundation.
Rangkaian kegiatan tersebut sudah dimulai dari Wilayah III Cirebon pada Sabtu (23/5/2026) di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon yang diikuti oleh 108 peserta hasil seleksi. KH Imam Jazuli bertindak sebagai narasumber tunggal dengan mengisi enam sesi materi dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Pihak panitia menjadwalkan agenda ini bergulir setiap pekan hingga Desember 2026. Target peserta di Pulau Jawa mencapai 400 orang per provinsi, dengan rincian Jawa Barat selesai awal Juni 2026, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten hingga Agustus 2026, sedangkan wilayah luar Jawa ditargetkan 100 sampai 150 peserta per provinsi.
Fasilitas yang disediakan bagi para peserta meliputi transportasi, akomodasi, sertifikat, buku panduan, hingga hadiah undian berupa menginap di hotel, ziarah Walisongo, dan perjalanan ke luar negeri.
Inisiator program, KH Imam Jazuli, menjelaskan bahwa kegiatan serupa sebenarnya sudah berjalan sejak tahun 2025 untuk cakupan lokal Jawa Barat serta nasional.
"Banyak peserta workshop terdahulu yang datang ke saya dan menyampaikan bahwa manfaat kegiatan tersebut sangat signifikan bagi perubahan pesantren. Karena itu, kali ini workshop dirancang lebih sistematis, detail, dan membumi. Bahkan akan dilanjutkan dengan pendampingan agar dampaknya lebih powerful," jelas Jazuli dalam keterangan tertulis, Minggu (24/5/2026).
Langkah sistematis ini sengaja disusun demi mendongkrak mutu pendidikan sekaligus menambah kuantitas santri di berbagai wilayah.
"Ketika pesantren semakin mampu menghasilkan santri-santri yang berhasil di dunia dan di akhirat, kepercayaan masyarakat akan semakin kuat," tambah Jazuli.
Lebih lanjut, figur yang akrab disapa Kiai Imjaz ini mengingatkan jajaran pengurus pondok agar mengantisipasi dinamika zaman secara cepat.
"Pesantren harus belajar dari runtuhnya korporasi besar dunia yang gagal merespons perubahan dengan cepat. Kematian organisasi bukan karena perubahan, tetapi karena kegagalan strategi dalam menghadapi perubahan," ujar Jazuli.
Materi di dalam pelatihan tersebut dinilai memberikan dampak positif dan panduan yang konkret bagi para pengasuh pondok yang hadir.
"Perubahan pesantren sudah dibahas di banyak tempat, tapi yang saya dapat barulah sebatas motivasi. Di workshop ini, saya mendapatkan motivasi, strategi, Metode, Sistem dan panduan teknis dengan langkah-langkah yang jelas dan terukur untuk melakukan perubahan. Sudah begitu, saya juga dapat rejeki doorprize untuk menginap di hotel," ungkap Dr KH Habib Khaerussani, pengasuh Pesantren Akmala Sabila, Cirebon.
Tanggapan serupa datang dari peserta lain yang merasa mendapatkan sudut pandang baru mengenai skema pengelolaan lembaga keagamaan tersebut.
"Workshop yang saya ikuti benar-benar memantik kesadaran dan pemahaman tentang cara mengubah sistem pembelajaran, membuat kurikulum yang menarik, layanan kepada santri walisantri dan masyarakat, dan strategi untuk menambah jumlah santri. Ini ilmu yang tidak bisa didapatkan dimanapun," ungkap KH Asep Abdul Aziz SH, pengasuh Pesantren Miftahul Mubarak Kuningan.
Selain strategi operasional, metode penyampaian materi berbasis data juga menjadi poin penting yang diapresiasi oleh peserta.
"Workshop yang diikuti isinya daging semua. Sudah begitu, Kiai Imjaz menyampaikan dengan cara yang sangat menarik sehingga seluruh peserta tetap semangat sampai akhir. Ada penyajian fakta, data riset, pemikiran dan pengalaman yang langsung ke inti masalah dan solusinya," kata KH Ence Burhanuddin MPd, pengasuh Pesantren Al-Amin Kuningan.
Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Agama dan pengurus PCNU dari Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka yang hadir memberikan apresiasi atas dedikasi serta pengorbanan sumber daya demi kemajuan pesantren di Indonesia.