IHSG Terkoreksi Tajam 3,48% di Sesi I, Investor Waspadai Sentimen Terbaru 2026

IHSG Terkoreksi Tajam 3,48% di Sesi I, Investor Waspadai Sentimen Terbaru 2026
Foto: IHSG Terkoreksi Tajam 3,48% di Sesi I, Investor Waspadai Sentimen Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan hebat yang mengakibatkan posisinya terus merosot tajam. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, indeks terpantau anjlok hingga 3,48% atau melemah 206,81 poin ke level 5.734,26.

Kondisi ini merupakan kelanjutan dari tren negatif pada hari sebelumnya, di mana IHSG sudah ditutup merosot sebesar 4,11%. Mayoritas saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia saat ini terjerembap di zona merah dengan pergerakan yang sangat terbatas.

Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG langsung menunjukkan tanda-tanda pelemahan di area negatif. Tak butuh waktu lama bagi indeks untuk terjun bebas melampaui level psikologis 5.800 atau menyusut lebih dari 2% dari penutupan sebelumnya.

Tekanan jual masif menyapu hampir seluruh sektor di pasar modal Indonesia pada siang hari ini. Sebanyak 716 emiten tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya ada 68 saham yang mampu menguat dan 175 saham lainnya bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan pada paruh pertama hari ini tergolong sangat padat dengan nilai transaksi mencapai Rp 12,72 triliun. Total volume perdagangan menyentuh 20,87 miliar lembar saham yang dieksekusi dalam 1,36 juta kali frekuensi transaksi.

Dampak dari pelemahan tajam ini menyebabkan nilai kapitalisasi pasar atau market cap menguap hingga Rp 364 triliun hanya dalam satu sesi. Berdasarkan data Refinitiv, sektor properti dan bahan baku menjadi pemberat utama dengan koreksi masing-masing sebesar 6,44% dan 5,7%.

Sektor teknologi relatif lebih kuat dibandingkan sektor lainnya meskipun tetap berakhir di zona negatif. Penurunan di sektor teknologi tercatat sebesar 1,96%, yang merupakan koreksi paling kecil di antara sektor-sektor yang ada.

Daftar saham penggerak penurunan indeks (top laggards) pada sesi pertama :

  • Bank Central Asia (BBCA) dengan kontribusi penurunan mencapai -18,74 poin.
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menyumbang pelemahan sebesar -17,25 poin.
  • Barito Pacific (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu dengan andil -10,13 poin.
  • Astra International (ASII) yang memberikan beban koreksi sebesar -7,98 poin.
  • Bank Mandiri (BMRI) dengan kontribusi terhadap penurunan indeks sebanyak -7,82 poin.

Seluruh saham perbankan berkapitalisasi besar atau Big Caps menjadi faktor utama yang menarik IHSG ke bawah. Pergerakan saham-saham blue chip ini sangat memengaruhi psikologi pasar mengingat bobotnya yang besar terhadap indeks secara keseluruhan.

Kejatuhan indeks yang terus berlanjut ini mengonfirmasi posisi IHSG yang kembali terperosok ke level terendah sejak akhir tahun 2020. Valuasi pasar secara agregat saat ini dinilai mencerminkan kondisi ketidakpastian yang mirip dengan masa pandemi Covid-19 lalu.

Penyebab utama dari koreksi mendalam ini adalah akumulasi berbagai sentimen makroekonomi dan masalah institusional yang belum mereda. Penurunan prospek atau outlook dari Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Kondisi pasar ekuitas semakin diperparah dengan melemahnya nilai tukar Rupiah yang kini sudah menembus angka Rp18.000 per Dolar AS. Depresiasi mata uang yang cukup drastis ini menimbulkan kecemasan terkait potensi kenaikan beban operasional perusahaan.

Investor merespons negatif pelemahan Rupiah karena banyak emiten di bursa yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan risiko keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor atau memiliki utang valas.

Fase krusial saat ini juga dipengaruhi oleh rumor terkait publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings yang kabarnya memicu aksi jual. Meski laporan resmi belum dirilis, pelaku pasar nampaknya lebih memilih untuk melakukan langkah antisipasi terlebih dahulu.

Selain sentimen domestik, volatilitas pasar dipicu oleh sikap waspada investor menjelang pengumuman penting dari lembaga indeks global, MSCI. Terdapat dua agenda besar dari MSCI yang menjadi perhatian utama para manajer investasi dan pemodal asing dalam waktu dekat.

Agenda penting MSCI yang memengaruhi pergerakan pasar saham bulan ini :

  • Publikasi Market Accessibility Review yang dijadwalkan pada tanggal 19 Juni mendatang.
  • Pengumuman Classification Review yang akan dirilis secara resmi pada tanggal 24 Juni.

Risiko mengenai adanya penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI membuat investor, terutama pihak asing, bergegas melakukan mitigasi. Mereka cenderung mengurangi porsi aset berisiko di pasar modal Indonesia guna menghindari dampak dari pengumuman tersebut.

Langkah pengurangan eksposur ini dilakukan sebagai upaya perlindungan modal sebelum adanya kepastian dari pihak MSCI. Alhasil, IHSG terus mengalami tekanan jual yang masif sepanjang perdagangan sesi pertama ini tanpa adanya tanda-tanda pembalikan arah yang signifikan.

Situasi ini mencerminkan tingginya tingkat kewaspadaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri dan pengaruh kebijakan eksternal. Pergerakan IHSG di sesi kedua diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh arus modal asing dan pergerakan kurs Rupiah.

Artikel terkait

Rekomendasi