Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan performa gemilang pada penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Indeks domestik tersebut berakhir di zona hijau dengan kenaikan sebesar 68,04 poin atau setara 1,11% ke level 6.195,42.
Meskipun performa indeks secara keseluruhan menunjukkan penguatan yang cukup signifikan, kondisi ini justru berbanding terbalik dengan perilaku para pemodal global. Investor asing terpantau masif melakukan aksi jual bersih atau net sell yang mencapai angka Rp1,39 triliun di seluruh pasar perdagangan saham.
Aksi jual tersebut paling banyak terjadi di pasar reguler, di mana investor luar negeri mencatatkan net sell sebesar Rp1,37 triliun. Salah satu saham yang paling banyak dilepas oleh pihak asing adalah emiten PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Nilai penjualan bersih pada saham TPIA tercatat menyentuh angka Rp253,67 miliar sepanjang hari tersebut. Walaupun berada di bawah tekanan jual asing yang besar, harga saham TPIA tetap mampu bertahan dan ditutup menguat 6,44% di level Rp1.900 per lembar saham.
Daftar Saham yang Paling Banyak Dilepas Asing
Selain emiten Chandra Asri, terdapat sejumlah perusahaan besar lainnya yang juga menjadi sasaran aksi jual oleh para investor mancanegara. Fenomena ini menarik perhatian pelaku pasar mengingat tren IHSG yang sebenarnya sedang berada dalam jalur pendakian.
Berikut adalah daftar 10 emiten dengan nilai penjualan bersih (net sell) terbesar oleh investor asing pada perdagangan kemarin:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp253,67 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp228,68 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp156,07 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp106,87 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebesar Rp88,85 miliar
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) sebesar Rp72,15 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp71,9 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp68,65 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar Rp58,73 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp48,32 miliar
Daftar di atas menunjukkan bahwa tekanan jual asing tidak hanya menyasar sektor manufaktur dan energi, tetapi juga merambah ke sektor perbankan kelas kakap. Kendati demikian, daya serap pasar domestik tampaknya cukup kuat untuk menopang pergerakan indeks agar tetap stabil.
Minat Beli Asing pada Saham Logam Mulia
Berbeda nasib dengan deretan saham di atas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru menjadi primadona bagi para pemodal internasional. Investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) paling jumbo pada saham perusahaan tambang pelat merah ini.
Nilai akumulasi pembelian bersih pada saham ANTM mencapai angka Rp108,65 miliar. Sentimen positif dari aksi beli ini turut mengerek harga saham ANTM yang melonjak sebesar 2,07% dan berakhir pada posisi harga Rp2.960 per lembar saham.
Secara umum, pasar modal Indonesia saat ini sedang menghadapi dinamika yang cukup menarik di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah dan data ekonomi terbaru. Berikut adalah ringkasan singkat mengenai performa transaksi asing pada beberapa saham unggulan kemarin.
Data ringkasan transaksi investor asing pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026:
| Nama Emiten | Kode Saham | Status Transaksi Asing | Nilai Transaksi |
|---|---|---|---|
| Chandra Asri Pacific | TPIA | Net Sell | Rp253,67 Miliar |
| Astra International | ASII | Net Sell | Rp228,68 Miliar |
| Barito Pacific | BRPT | Net Sell | Rp156,07 Miliar |
| Aneka Tambang | ANTM | Net Buy | Rp108,65 Miliar |
Tabel tersebut memberikan gambaran kontras antara emiten yang sedang dilepas oleh asing dan emiten yang menjadi target koleksi utama. Perbedaan strategi ini biasanya dipengaruhi oleh prospek sektoral maupun laporan kinerja perusahaan masing-masing.
Kenaikan IHSG sebesar 1,11% ini juga terjadi di saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada dalam posisi yang tertekan. Meski mata uang domestik sempat mendekati level Rp17.900 per dolar AS, pasar saham tetap menunjukkan resiliensi yang cukup baik pada sesi perdagangan tersebut.
Para analis melihat bahwa penguatan indeks kemungkinan dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap agenda rebalancing FTSE serta antisipasi terhadap data inflasi nasional. Meskipun demikian, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap penurunan daya beli masyarakat yang sempat menjadi sorotan belakangan ini.
Sebagai informasi tambahan, pergerakan positif IHSG di Jakarta ini sejalan dengan tren bursa saham di kawasan Asia lainnya yang juga bersiap menguat. Optimisme pasar global saat ini banyak didorong oleh sentimen positif dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat.
Kondisi pasar modal yang fluktuatif ini menuntut investor untuk lebih jeli dalam memilah portofolio mereka. Mengamati pergerakan dana asing bisa menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah pasar di masa mendatang, terutama di tengah ketidakpastian kondisi makroekonomi global.