IHSG Jadi Terburuk di Dunia, Ini 5 Faktor Mengejutkan Pemicunya di 2026

IHSG Jadi Terburuk di Dunia, Ini 5 Faktor Mengejutkan Pemicunya di 2026
Foto: IHSG Jadi Terburuk di Dunia, Ini 5 Faktor Mengejutkan Pemicunya di 2026. (Illustration by Pexels)

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Penurunan tajam ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif yang mayoritas datang dari kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri.

Pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG terpuruk dengan koreksi sebesar 4,11 persen dan berakhir di posisi 5.941 pada penutupan sesi kedua. Tekanan jual yang masif bahkan sempat membuat indeks menyentuh level terendah harian di angka 5.842 setelah anjlok 5 persen saat sesi kedua dimulai.

Pergerakan indeks sepanjang hari tersebut tercatat sebagai performa harian paling rendah sejak tahun 2021. Kondisi ini menempatkan bursa saham Indonesia sebagai pasar dengan kinerja paling buruk di dunia pada hari tersebut.

Memasuki perdagangan hari Kamis, 4 Juni 2026, situasi pasar modal justru semakin memburuk dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Berdasarkan data per pukul 09.40 WIB, IHSG kembali tersungkur sebesar 4,78 persen ke level 5.657.

Anjloknya indeks di pagi hari ini memastikan posisi IHSG tetap bertahan sebagai bursa saham dengan kinerja terlemah di tingkat global. Para pelaku pasar dan investor kini memantau dengan cermat berbagai faktor yang menyebabkan kekacauan di pasar ekuitas ini.

Data Perbandingan Performa Bursa Saham Global

Berikut adalah ringkasan performa IHSG dibandingkan dengan tren pasar global yang tercatat pada 4 Juni 2026:

Parameter Pasar Keterangan Statistik
Penurunan IHSG (3 Juni 2026) Melemah 4,11% ke level 5.941
Penurunan IHSG (4 Juni 2026) Anjlok 4,78% ke level 5.657
Titik Terendah Intraday Menyentuh level 5.842 (3 Juni)
Status Kinerja Dunia Peringkat terburuk di dunia
Rekor Penurunan Terparah sejak periode 2021

Tabel di atas menggambarkan betapa drastisnya pelemahan IHSG dalam dua hari terakhir dibandingkan bursa mancanegara lainnya. Hal ini memicu kekhawatiran besar di kalangan investor domestik maupun asing yang mulai menarik modal mereka dari pasar aset berisiko.

Faktor Pemicu Gejolak Pasar dan Nilai Tukar

Keterpurukan pasar modal ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi dari beberapa peristiwa ekonomi penting. Salah satu tekanan terbesar berasal dari nilai tukar Rupiah yang kian terperosok hingga melampaui angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi Rupiah yang tembus ke level psikologis baru ini memicu kepanikan di pasar keuangan secara luas. Banyak investor yang akhirnya memilih untuk melepas kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) demi menghindari kerugian yang lebih dalam akibat depresiasi mata uang.

Selain masalah nilai tukar, terdapat ketidakpastian regulasi yang turut memberikan sentimen negatif bagi iklim investasi. Rencana pengesahan revisi UU PPSK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan) oleh DPR dan pemerintah menjadi fokus perhatian utama para pelaku usaha.

Terdapat beberapa peristiwa ekonomi dan hukum penting lainnya yang mempengaruhi sentimen investor saat ini:

  • Gejolak Nilai Tukar: Rupiah yang jatuh di atas Rp18.000 per dolar AS menciptakan ketidakstabilan di seluruh sektor finansial.
  • Aksi Jual Asing: Investor asing mencatatkan net sell hingga ratusan miliar rupiah dalam satu hari perdagangan di berbagai saham blue chip.
  • Kasus Hukum Pejabat: Kabar mengenai mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi menambah daftar sentimen negatif.
  • Operasi Tangkap Tangan: KPK tengah melakukan pencarian terhadap Wamen Silmy Karim terkait dugaan kasus OTT di Imigrasi Jakarta Barat.
  • Kondisi Komoditas: Adanya penundaan impor batu bara oleh China dari Indonesia yang berdampak pada emiten sektor energi.

Poin-poin di atas menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang sedang dihadapi oleh ekonomi domestik saat ini. Kombinasi antara pelemahan nilai tukar, masalah korupsi birokrasi, dan regulasi baru membuat pasar modal kehilangan pijakannya.

Dampak Terhadap Instrumen Investasi Lain

Krisis yang dialami IHSG ternyata merembet ke instrumen investasi digital lainnya seperti Bitcoin yang mengalami penurunan tajam hingga 16 persen. Harga komoditas internasional seperti bijih besi juga dilaporkan amblas ke level terendah dalam dua bulan terakhir.

Kondisi ini semakin diperparah dengan perubahan struktur kepemimpinan di beberapa lembaga strategis. Nanik S Deyang ditunjuk untuk menggantikan Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) guna menjaga stabilitas institusi tersebut.

Di tengah ketidakpastian ekonomi ini, Moody's juga memberikan penilaian terhadap Danantara (DIM) dengan rating Baa2 namun disertai dengan outlook negatif. Hal ini mencerminkan pandangan lembaga internasional terhadap risiko investasi di Indonesia yang kian meningkat.

Pemerintah sendiri tetap menjadwalkan pencairan gaji ke-13 bagi ASN dan penerima lainnya mulai 2 Juni 2026 sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Meski demikian, langkah ini belum cukup kuat untuk membendung sentimen negatif yang menghantam lantai bursa secara bertubi-tubi.

Para analis memprediksi IHSG masih berpotensi melanjutkan tren koreksinya jika tidak ada intervensi atau kabar positif yang signifikan. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati setiap perubahan kebijakan pemerintah serta pergerakan kurs Rupiah yang masih sangat fluktuatif.

Artikel terkait

Rekomendasi